Jumlah Hotspot Sumsel Naik 155, Menyusul Musim Kemarau

Bima J. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Jumlah Hotspot Sumsel Naik 155, Menyusul Musim Kemarau

Gambar atau konten salah?

Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan naik tajam pada periode 1‑15 Mei 2026. Data pemantauan menunjukkan 155 hotspot terdeteksi di berbagai wilayah Sumsel, angka tertinggi sejak awal tahun ini.

Perbandingan bulanan memperlihatkan tren kenaikan. Pada Januari, 75 titik panas tercatat; Februari turun menjadi 54. Kemudian, pada Maret, jumlah naik menjadi 107, dan pada April mencapai 150. Akhirnya, 1‑15 Mei melampaui semua bulan sebelumnya dengan 155 titik.

“Memasuki Maret, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 107 titik dan pada April sebanyak 150 titik. Sedangkan 1‑15 Mei angkanya terus naik menjadi 155 titik dan melampaui jumlah hotspot bulan‑bulan sebelumnya,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman pada hari Sabtu, 16 Mei 2026.

Distribusi hotspot pada Mei menunjukkan daerah Lahat paling parah dengan 58 titik, diikuti Muara Enim 49 titik, dan Musi Banyuasin 17 titik. Angka ini menandakan Sumsel sedang memasuki fase musim kemarau.

“Peningkatan hotspot pada Mei mengindikasikan Sumsel secara bertahap memasuki musim kemarau. Hal ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan gambut,” tambah Sudirman.

Faktor utama peningkatan hotspot adalah cuaca panas dan penurunan curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. BPBD Sumsel, bersama instansi terkait, terus memantau dan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk mengantisipasi potensi karhutla. Langkah pencegahan termasuk patroli rutin di daerah rawan terbakar.

Provinsi Sumsel sudah menaikkan status kesiapsiagaan menghadapi bencana karhutla tahun ini. Pihaknya mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dapat memicu kebakaran meluas, terutama saat kondisi cuaca kering dan angin kencang. BPBD Sumsel juga mendorong kabupaten/kota yang belum menetapkan siaga karhutla untuk segera menaikkan statusnya.

“Sesuai prediksi, Mei ini menjadi awal musim kemarau dan telah terjadi peningkatan titik panas. Diprediksi Agustus nanti menjadi puncak musim kemarau, sehingga kita harapkan daerah rawan karhutla segera menetapkan status siaga,” ungkap Sudirman.

Dengan data ini, para petugas dan masyarakat di Sumsel diharapkan lebih waspada terhadap risiko kebakaran. Kesiapsiagaan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang konsisten menjadi kunci mengurangi potensi karhutla di musim kemarau mendatang.

hotspot Sumselkarhutlamusim kemarauBPBD SumselLahat hotspotcurah hujan menurunkebakaran hutan

Komentar

Memuat komentar...