Kapal LNG Kunpeng Berhenti Tanpa Tujuan Pasca Penolakan India
Gambar atau konten salah?
Kunpeng, sebuah kapal tanker berkapasitas 138.200 meter kubik, sedang berlayar tanpa tujuan pasti setelah India menolak membiarkannya bersandar di pelabuhan. Kapal ini membawa gas alam cair (LNG) dari terminal Portovaya di Laut Baltik, yang dikenai sanksi AS akibat konflik di Ukraina.
Menurut sumber yang mengetahui, “Keengganan India menyebabkan kargo LNG dari pabrik Portovaya di Laut Baltik yang dikenai sanksi AS di Rusia tidak dapat dibongkar, meskipun India telah tertera sebagai tujuannya pada pertengahan April,” kata salah satu sumber kepada Reuters. Sumber tersebut menegaskan bahwa kapal tersebut awalnya direncanakan akan melakukan bongkar muat pada bulan lalu di terminal impor LNG Dahej di India bagian barat.
Keputusan New Delhi ini menegaskan upaya India menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi murah dan hubungan diplomatik dengan AS. Sementara itu, Moskow menghadapi keterbatasan dalam mengalihkan ekspor LNG ke pasar baru.
Rusia sempat mencoba menyamarkan asal muatan sebagai non‑Rusia, namun pelacakan satelit berhasil mengidentifikasi sumber asli. LNG lebih sulit disembunyikan dibandingkan minyak mentah, yang dapat dipindahkan antar kapal di laut lepas.
“Kapal tersebut tetap terlacak meskipun dokumentasi menunjukkan bahwa kargo tersebut bukan berasal dari Rusia,” jelas sumber yang tidak ingin disebutkan namanya. Hal ini menunjukkan bahwa data navigasi global tetap efektif dalam memantau pergerakan LNG.
Menurut laporan LSEG, Kunpeng kini berada di perairan dekat Singapura tanpa pengumuman tujuan lebih lanjut. Pembicaraan antara Rusia dan India mengenai kargo yang diizinkan masih berlangsung.
Rusia terus mengejar kesepakatan jangka panjang untuk memasok LNG dan pupuk ke India, berusaha mengalihkan pasar yang selama ini bergantung pada Eropa. Sementara India memberikan sinyal terbuka untuk membeli LNG Rusia, namun dengan syarat ketat bahwa kargo tersebut harus bersih dari sanksi internasional.
Situasi ini mencerminkan dinamika geopolitik energi di Asia, di mana negara-negara bersaing untuk mendapatkan pasokan murah sambil mempertahankan hubungan strategis. Kapal Kunpeng tetap menjadi simbol ketegangan antara kepentingan ekonomi dan kebijakan luar negeri.
Dengan kapal ini masih berada di laut, peristiwa ini menyoroti betapa kompleksnya perdagangan LNG di tengah tekanan sanksi dan pergeseran aliansi energi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz