Keraton Gunung Kawi: Mitos Pesugihan, Toleransi Sejati

Sari D. · 3 min baca · 14 hari lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Keraton Gunung Kawi: Mitos Pesugihan, Toleransi Sejati

Gambar atau konten salah?

Di Malang, nama Gunung Kawi selalu dikaitkan dengan cerita‑cerita mistis. Rumor‑rumor tentang pesugihan, ritual penggandaan uang, atau perjanjian gaib demi kekayaan instan sering beredar di kalangan masyarakat.

Semakin baru, Marcel Radhival Pesulap Merah menambah kabar tersebut ketika ia mengungkap dugaan praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi. Melalui akun media sosialnya, Marcel menyatakan bahwa kunjungannya ke keraton itu bertujuan menjawab rasa penasaran netizen mengenai dugaan penggunaan tumbal di tempat sakral tersebut.

Setelah menerima permintaan, Marcel langsung bertemu dengan juru kunci setempat untuk menelusuri informasi lebih dalam. Namun, ketika ia menelusuri kompleks Keraton Gunung Kawi yang terletak di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, kenyataannya jauh berbeda dari kesan menyeramkan yang sering diputar.

Gerbang keraton dibuka dengan udara sejuk yang khas lereng gunung. Pohon‑pohon besar yang dibalut kain poleng bermotif kotak‑kotak hitam‑putih menambah nuansa sakral. Aroma dupa dan sesajen di beberapa sudut membuat pengunjung baru pertama kali datang merasa merinding, namun pengelola menegaskan bahwa aura mistis itu bukan tanda adanya sekte gelap atau pesugihan hitam.

Jono, salah satu juru kunci kompleks, menjelaskan bahwa pusat kawasan ini adalah makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Kedua tokoh yang berasal dari Kerajaan Kediri kuno ini dikenal menetap di sana untuk bertapa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (moksa) hingga akhir hayatnya.

“Masyarakat datang ke sini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada leluhur, sama seperti makam‑makam keramat pada umumnya. Anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi mencari pesugihan atau kekayaan instan itu tidak benar,” kata Jono. Pada 12 Oktober 2023, ia menegaskan kembali bahwa bagi mereka yang datang dengan niat memperlancar usaha, pengelola meluruskan bahwa keraton ini berfungsi sebagai tempat berdoa dan memohon kelancaran kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menghormati jasa para leluhur sebagai perantaranya.

“Menariknya, bukti keberhasilan doa para peziarah tidak diwujudkan dalam bentuk tumbal atau ritual aneh, melainkan dalam bentuk donasi sukarela.”

Karena kontribusi dari para peziarah yang sukses dalam karir dan usahanya, fasilitas di Keraton Gunung Kawi kini sangat modern. Bahkan, telah dilengkapi dengan Wi‑Fi gratis demi kenyamanan pengunjung.

Di balik mitos pesugihan yang melekat, Keraton Gunung Kawi sebenarnya menyimpan permata yang jauh lebih berharga: nilai toleransi yang luar biasa tinggi. Di dalam kompleks yang dikelola bersama oleh Perhutani dan warga setempat, berdiri lima rumah ibadah untuk agama‑agama yang diakui di Indonesia. Umat dari berbagai latar belakang keyakinan sering kali datang dan beribadah secara berdampingan tanpa ada gesekan. Tempat ini menjadi simbol bagaimana spiritualitas bisa menyatukan perbedaan, alih‑alih memisahkannya.

Untuk wisatawan yang penasaran, tempat ini sangat terbuka untuk umum. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 12 ribu dan biaya parkir kendaraan, pengunjung sudah bisa menikmati ketenangan batin, keindahan alam, sekaligus mengedukasi diri tentang sejarah dan budaya yang ada. Kompleks ini dirawat secara bergantian oleh 10 juru kunci dan 20 warga lokal yang siap mendampingi sebagai pemandu wisata.

Dengan segala elemen tersebut, misteri Keraton Gunung Kawi kembali bergantung pada niat masing‑masing individu yang mengunjunginya. Tempat ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi orang-orang untuk berbagi doa, belajar toleransi, dan menikmati keindahan alam tanpa harus meneliti kisah‑khas yang tidak berdasar.

Keraton Gunung KawiPesugihanToleransi agamaMakam Eyang TunggulWisata budayaWi‑Fi gratisMitologi mistis

Komentar

Memuat komentar...