Keraton Gunung Kawi: Ziarah, Rumor Pesugihan Terbongkar

Rini S. · 3 min baca · 14 hari lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Keraton Gunung Kawi: Ziarah, Rumor Pesugihan Terbongkar

Gambar atau konten salah?

Keraton Gunung Kawi kembali menjadi sorotan setelah munculnya Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah, mengungkap dugaan praktik pesugihan di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang.

Tempat ini, yang terletak di ketinggian sekitar 2.860 mdpl, telah lama dikenal dengan nuansa mistis. Peziarah biasanya mengunjungi keraton pada malam Kamis Kliwon hingga malam 1 Suro (Muharram), menambah aura keagungan yang tak terlukiskan.

Berbeda dengan keraton megah yang biasanya menampilkan arsitektur yang megah, Keraton Gunung Kawi memiliki bangunan sederhana. Bangunan fisik di sini jauh dari kemegahan, namun tetap memancarkan kehadiran spiritual yang kuat.

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Malang, baik menggunakan motor maupun mobil. Sesampainya di kawasan keraton, udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan suasana sunyi, menciptakan nuansa mistis yang terasa begitu kuat.

Di sejumlah sudut area terlihat sesajen yang diletakkan pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa tempat ini sering digunakan sebagai tempat pemujaan oleh warga yang mempercayainya, menambah kesan keagungan yang tak terhingga.

Jika seseorang pertama kali memasuki area ini, pasti merasa sedikit takut. Suasana keraton sangat hening nan keramat, membuat siapa pun yang memandangi setiap ornamen di sekitarnya merasa tak nyaman.

Setelah memasuki pintu gapura, pengunjung akan menemui tiga makam yang dipercaya merupakan pengawal setia dari Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati, yang dimakamkan di komplek dalam keraton. Mereka adalah Eyang Hamid, Eyang Broto dan Eyang Joyo.

Setelah melewati area makam tersebut, pengunjung akan menemui sebuah bangunan tepat berada di ujung anak tangga dinamai Kraton Gunung Kawi. Bangunan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual bagi para peziarah.

Di sisi timur bangunan berdiri pohon Dewandaru yang dipercaya merupakan pohon keberuntungan. Sedangkan pada sisi barat terdapat bangunan tempat ibadah umat beragama Konghucu. Keberagaman ini menampilkan budaya dan keyakinan dari lima agama, dengan berdirinya masjid, gereja, pura, dan klenteng.

Jono, salah satu penjaga sekaligus pemandu bagi pengunjung yang datang ke Keraton Gunung Kawi, menyatakan, “Di sini sama halnya dengan makam pada umumnya. Datang ke sini untuk berziarah, bertawasul kepada leluhur. Bukan tempat mencari pesugihan, itu tidak benar,” kata Jono pada 12 Oktober 2023.

Jono mengaku, dalam Keraton Gunung Kawi memiliki beberapa tempat. Diantaranya keraton itu sendiri, makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati, serta tempat meditasi. Selain rumah ibadah bagi lima agama yang diakui di Indonesia.

Makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati merupakan punjer (pusat) dari komplek keraton. Banyak yang datang untuk berziarah di sini, akunya.

Setahu Jono, Eyang Tunggul Manik dan istrinya Eyang Tunggul Wati merupakan tokoh asal Kediri, yang kemudian memilih untuk menetap di wilayah yang sekarang menjadi lokasi keraton. Beliau asalnya Kediri, menetap disini untuk bersemedi hingga sampai meninggal dan dimakamkan disini, katanya.

Lalu, bagaimana asal muasal Keraton Gunung Kawi banyak kemudian dikunjungi masyarakat untuk ngalab berkah? Jono menuturkan, semenjak pindah untuk menjauh dari ramainya kehidupan, keberadaan Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati ternyata banyak diketahui masyarakat. Mereka datang untuk meminta wejangan hidup.

Sampai kemudian wafat, masyarakat tetap berkunjung ke sini untuk berziarah. Hanya itu tujuannya, bukan ada hal lain (pesugihan), beber Jono.

Menurut Jono, seseorang yang ingin usahanya sukses dan diberikan kelancaran atau pun tujuan yang lain. Biasanya berdoa di makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Jadi bukan pesugihan. Biasanya orang berdoa meminta kelancaran dan kesuksesan di sini sebagai perantaranya, paparnya.

Jono mengungkapkan, peziarah akan kembali datang sebagai wujud syukur. Karena mengetahui usaha sukses atau permasalahan yang dihadapi bisa selesai. Doa dengan niat ikhlas dari hati dan kemudian terkabul. Semua kembali ke pribadi masing-masing, ketika terkabul peziarah kembali untuk menyatakan syukur dan mengirim doa kepada leluhur, tuturnya.

Para peziarah telah sukses dalam karir maupun usaha, bukan hanya datang menggelar selametan. Melainkan memberikan donasi untuk biaya pembangunan. Di sini bangunan sampai ada Wi‑Fi dari donasi peziarah. Banyak baik dari Malang sampai luar Jawa, katanya.

Menurut Jono, Keraton Gunung Kawi berada di lahan milik Perhutani yang dikelola oleh masyarakat desa setempat. Setidaknya ada 20 warga yang terlibat sebagai pemandu sekaligus penjaga dan merawat komplek keraton. Disini ada 20 warga yang terlibat, jadi pemandu, penjaga dan merawat keraton. Kalau juru kunci ada 10 orang, bertugas secara bergiliran, pungkasnya.

Setiap pengunjung diwajibkan membayar tiket sebesar Rp 12 ribu, untuk bisa masuk ke Keraton Gunung Kawi. Jika membawa motor harus menambah biaya parkir sebesar Rp 5 ribu.

Keraton Gunung Kawi tetap menjadi tempat yang dihormati oleh masyarakat. Meskipun ada rumor pesugihan, pengunjung lebih fokus pada doa dan rasa syukur. Keberagaman agama dan budaya di sini menambah nilai spiritual bagi siapa pun yang datang.

Keraton Gunung KawiPesulap MerahpesugihanEyang Tunggul Manikkeberagaman agamamistisMalang

Komentar

Memuat komentar...