Ki Hajar Dewantara: Pilar Sejarah Pendidikan Indonesia

Fajar H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Ki Hajar Dewantara: Pilar Sejarah Pendidikan Indonesia

Gambar atau konten salah?

Ki Hajar Dewantara, nama yang selalu terhubung dengan Hari Pendidikan Nasional, bukan sekadar simbol. Ia adalah sosok yang menolak sistem kolonial demi membuka pintu belajar bagi rakyat pribumi. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku, melainkan tentang perjuangan.

Ia lahir di Yogyakarta pada 02 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ayahnya, Kanjeng Pangeran Haryo Soerjaningrat, dan ibu, Raden Ayu Sandiah, menurunkan warisan bangsawan. Keturunan Sri Paku Alam III memberi akses ke pendidikan yang pada masa itu masih terbatas pada kalangan elit. Dari sini, ia belajar bahwa hak belajar harus dimiliki semua, tidak hanya bangsawan.

Pendidikan formalnya dimulai di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Belanda. Setelah itu, ia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Jawa). Namun, kondisi kesehatan dan faktor lain menghentikan studinya di sana. Meski tak menyelesaikan gelar kedokteran, semangatnya untuk berkontribusi pada bangsa tetap menyala.

Pada usia empat puluh tahun, ia mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Nama ini dipilih untuk menunjukkan kedekatannya dengan rakyat dan komitmen pada dunia pendidikan. Nama baru ini menjadi identitas yang lebih mudah dikenali oleh masyarakat luas.

Setelah berhenti dari dunia kedokteran, Ki Hajar beralih ke jurnalistik. Ia menulis di berbagai surat kabar dengan gaya tajam dan kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Tulisan paling terkenal, "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), menuduh rencana perayaan kemerdekaan Belanda di tanah jajahan. Kritik ini membuatnya menjadi sasaran marah pemerintah kolonial.

Akibatnya, ia diasingkan ke Belanda bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam kelompok Tiga Serangkai. Di masa pengasingan, ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari sistem pendidikan modern. Pengetahuan ini kemudian menjadi bekal penting ketika ia kembali ke tanah air.

Setelah kembali, Ki Hajar mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 03 Juli 1922 di Yogyakarta. Menurut Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansi karya Bartolomeus Samho, Taman Siswa didirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Lembaga ini membuka akses belajar bagi masyarakat pribumi dan menanamkan nilai kebangsaan serta kemandirian.

Kenapa ia dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia? Karena dedikasinya memperjuangkan pendidikan yang merata dan adil. Ia ingin semua kalangan, terutama bumiputra, mendapatkan hak belajar yang layak. Pemerintah kolonial menilai pemikirannya sebagai ancaman, karena dapat memicu perlawanan. Namun, tujuan utamanya adalah menumbuhkan pola pikir kritis dan merdeka.

Perjuangannya tidak berhenti di situ. Ia menentang kebijakan Wilde Scholen Ordonantie (Undang-Undang Sekolah Liar) pada 1932. Kebijakan ini dianggap membatasi perkembangan pendidikan, terutama semangat nasionalisme. Berkat perjuangannya, kebijakan tersebut akhirnya dicabut oleh pemerintah kolonial.

Pengakuan atas jasa-jasanya datang pada 1950, ketika ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pengangkatan ini menandakan bahwa dedikasinya di bidang pendidikan diakui secara resmi. Pada 1959, pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional, penghormatan tertinggi atas jasa-jasanya.

Namun, kebahagiaan tidak bertahan lama. Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Padepokan Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Pendopo Agung Taman Siswa, Yogyakarta. Nama dan perjuangannya tetap dikenang sebagai tonggak pendidikan Indonesia.

Semangatnya juga tertuang dalam semboyan "Tut Wuri Handayani". Semboyan ini masih digunakan hingga kini, menjadi motto pendidikan dan logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia mengajak kita untuk selalu mendukung dan memotivasi generasi berikutnya.

Profil Ki Hajar Dewantara bukan sekadar kisah tokoh. Ia mencerminkan semangat perjuangan dalam mencerdaskan bangsa. Pemikiran dan jasanya tetap relevan, mengingatkan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan. Melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional, semangat tersebut diharapkan terus hidup dan dilanjutkan oleh generasi muda.

Ki Hajar DewantaraTaman SiswaPendidikan NasionalPerjuangan Antara KolonialTut Wuri HandayaniPemberdayaan BelajarHari Pendidikan Nasional

Komentar

Memuat komentar...