Kopi Bisa Menyebabkan Mules, Ahli Gizi Jelaskan Penyebab Lagi

Kartika D. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 44 dibaca
Bisik.id
Kopi Bisa Menyebabkan Mules, Ahli Gizi Jelaskan Penyebab Lagi

Gambar atau konten salah?

Penggemar kopi di Medan sering kali bertanya, apakah kopi memang dapat memicu mules—sebuah istilah yang merujuk pada diare ringan—setelah diminum.

Dr. Eka Febriyanti, seorang ahli gizi, menjelaskan bahwa kopi bisa menjadi penyebab mules, khususnya bagi orang yang pencernaannya lebih sensitif. Menurutnya, kafein dalam kopi memiliki efek mempercepat motilitas usus, yang dapat memicu perut bergejolak.

“Bisa aja sih memang membuat mules. Itu karena kadang karena kafeinnya, kafein itu bisa mempercepat motilitas usus jadi akan ada rasa sedikit mules. Tapi hanya bisa terjadi pada orang-orang yang pencernaannya sensitif,” jelasnya saat diwawancarai Selasa (14 April 2026).

Selain kafein, kandungan susu dalam kopi juga dapat menjadi faktor. Mules sering muncul ketika kopi dicampur susu tertentu, terutama bagi penderita Lactose Intolerant.

“Kalau berkaitan dengan susu juga bisa, terutama pada orang-orang yang memang ada intoleransi laktosa,” ujarnya. Susu yang terkandung dalam kopi dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti mules, kembung, hingga mencret.

“Kalau memang intoleransi laktosa, maka harus memilih jenis susu, kalau memang pakai susu usahakan yang rendah laktosa. Misalnya berbahan tumbuhan, seperti oat atau kedelai,” tutupnya.

Selama sesi tanya jawab, Dr. Eka menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal reaksi pencernaan. Ia juga menegaskan bahwa bagi penderita intoleransi laktosa, memilih susu rendah laktosa dapat membantu mengurangi gejala.

Dengan memahami bagaimana kafein dan laktosa memengaruhi usus, konsumen dapat menyesuaikan pilihan kopi dan susu agar tidak mengalami gangguan pencernaan. Hal ini penting bagi mereka yang sensitif terhadap kedua komponen tersebut.

Konsumsi kopi tanpa susu dapat mengurangi risiko mules bagi sebagian orang kebanyakan tersebut.

kopimuleskafeinlaktosaintoleransi laktosapencernaansusu rendah laktosa

Komentar

Memuat komentar...