Lapas Kerobokan Rayakan Hari Kartini Meski Overkapasitas

Yanto K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Lapas Kerobokan Rayakan Hari Kartini Meski Overkapasitas

Gambar atau konten salah?

Hari Kartini dirayakan di Lapas Perempuan Kerobokan pada 21 April 2026, meski lembaga ini sedang mengalami overkapasitas hampir dua kali lipat. Dengan 258 warga binaan, termasuk lima bayi dan 12 warga negara asing, jumlah ini jauh melebihi kapasitas ideal yaitu 120 orang. Meskipun ruang terbatas, semangat berkarya tetap terlihat jelas.

Pengunjung dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) dan Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan (Puspa) Bali, serta delegasi World Congress on Probation and Parole dari Belanda, datang untuk menyaksikan beragam keterampilan yang ditampilkan. Para warga menampilkan tata rias, kerajinan tas, aneka makanan, lukisan, dan fashion show.

Warga binaan pemasyarakatan di Lapas Perempuan Kerobokan ini sangat antusias dengan adanya kegiatan Hari Kartini ini, termasuk warga negara asing yang ada di dalam,” ujar Ni Luh Putu Andiyani, Kepala Lapas, pada hari Selasa.

Acara dibuka oleh Anak Agung Sagung Mas Dwipayani, Kepala Dinsos P3A Provinsi Bali, bersama Ny Seniasih Giri Prasta, Ketua Forum Puspa Provinsi Bali. Kegiatan ini menjadi kali pertama Lapas Perempuan Kerobokan menggelar pameran karya warga binaan yang diiringi pelatihan keterampilan, seperti tata rias wajah dan seni sanggul. Selain itu, diselenggarakan sosialisasi peningkatan partisipasi perempuan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan hukum.

Warga menampilkan tarian, peragaan busana, dan produk buatan sendiri seperti tas, shawl, dan rajutan. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas tetap tumbuh meski berada di balik jeruji.

Menurut Andiyani, setiap pelatihan tidak bersifat sementara. “Setiap pelatihan ada sertifikat yang disimpan di file masing-masing. Saat mereka bebas, sertifikat dan peralatan akan diberikan sebagai bekal,” jelasnya. Sertifikat ini menjadi bekal bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat.

Selain pelatihan salon, program pemberdayaan lain terus dikembangkan. Warga membuat keripik tempe, kue, kerajinan tangan, serta melakukan kegiatan pertanian dan peternakan, seperti budidaya ayam, lele, melon, dan anggur. Produk mereka pernah dipakai sebagai suvenir dalam kegiatan internasional dan dipamerkan di berbagai event tingkat kabupaten hingga provinsi Bali.

Di tengah kondisi tersebut, pemberdayaan menjadi ruang penting untuk membangun kembali kepercayaan diri warga binaan. Salah satu yang merasakan perubahan adalah Kasarin Khamkao, yang telah menjalani tujuh tahun dari vonis 16 tahun dalam kasus narkotika. “Ini pertama kali saya ikut pelatihan seperti ini. Saya ingin berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya.

Petugas lapas berharap para warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap. “Kami terharu melihat para wanita di sini begitu kuat menjalani masa ujian. Semoga mereka bisa segera pulang, berkumpul dengan keluarga, dan tidak minder saat kembali ke masyarakat,” ujar Ny Seniasih Giri Prasta.

Perayaan Hari Kartini di Lapas Kerobokan menjadi pengingat bahwa pemberdayaan perempuan tidak mengenal batas ruang. Di balik jeruji, para perempuan terus belajar, berkarya, dan menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kegiatan ini menegaskan bahwa meski berada di lingkungan yang terbatas, potensi dan kreativitas tetap dapat berkembang, memberikan contoh nyata bahwa ruang tidak selalu menjadi penghalang bagi pertumbuhan pribadi dan profesional.

Lapas Perempuan KerobokanHari KartiniPemberdayaan PerempuanKeterampilanSertifikatOverkapasitasPelatihanMitras Internasional

Komentar

Memuat komentar...