Makanan Ultra-Proses Lebih Berbahaya dari Rokok, Katakan Dr.
Gambar atau konten salah?
Ultra-processed foods dikatakan lebih berbahaya daripada merokok, ujar dokter spesialis penyakit infeksi asal Inggris, Chris van Tulleken, dalam sebuah episode podcast.
Wawancara itu diadakan pada 06 April 2026 dan dibawakan dalam serial “Diary of a CEO”. Chris menekankan bahwa banyak orang masih bingung memandang makanan berbahaya, meski sudah lama ada istilah khusus untuk itu.
“Selama ini kita bingung soal apa yang harus dimakan. Kita menyebutnya junk food atau makanan tinggi lemak, garam, dan gula, tapi tidak punya definisi yang jelas,” ujarnya.
Menurut Chris, istilah ultra-processed foods (UPF) baru muncul sekitar tahun 2009‑2010, ketika para peneliti di Brasil mulai mendeskripsikan pola makan industri modern. UPF adalah produk yang melewati banyak tahap pengolahan, mengandung sedikit bahan makanan utuh, dan diperkaya dengan pengawet, pewarna, serta pemanis buatan.
Contoh UPF meliputi mie instan, sosis atau nugget, minuman bersoda atau minuman manis kemasan, camilan ringan seperti keripik, roti komersial, sereal manis, serta makanan siap saji. Semua barang ini dapat ditemukan di hampir setiap pasar, dan sering menjadi pilihan cepat bagi banyak orang.
“Pola makan buruk, terutama yang tinggi makanan ultra‑proses, kini sudah melampaui rokok sebagai penyebab utama kematian dini di dunia,” jelasnya.
Fenomena ini tidak terbatas pada negara maju. Chris mencontohkan Meksiko, Kolombia, dan Brasil, yang sebelumnya memiliki tingkat obesitas rendah. Namun, dalam satu dekade setelah masuknya makanan olahan industri, obesitas menjadi masalah kesehatan utama di ketiga negara tersebut.
“Dulu hampir tidak ada yang obesitas, tetapi 10 tahun kemudian hampir semua orang mengenal seseorang yang bagian tubuhnya diamputasi akibat diabetes tipe 2,” katanya.
Chris menyoroti sifat adiktif UPF, yang membuat orang sulit berhenti mengonsumsinya. “Makanan ini bisa sama adiktifnya dengan tembakau, alkohol, bahkan narkoba bagi sebagian orang,” ujarnya.
Penggunaan tinggi UPF telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, gangguan kesehatan mental, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular. Namun, Chris menegaskan bahwa perubahan pola makan harus dilakukan secara bijak.
“Pendekatan seperti itu cenderung membuat orang semakin terdorong melakukan hal yang sama,” kata Chris. Ia menekankan bahwa memaksa atau memarahi seseorang untuk berhenti mengonsumsi makanan tidak sehat justru dapat berdampak sebaliknya.
Solusinya, menurut Chris, adalah memulai perubahan kebiasaan secara bertahap. Ia menyarankan orang-orang untuk beralih menyantap makanan yang lebih sehat, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, atau gandum. Langkah kecil ini dapat membantu menurunkan ketergantungan pada UPF.
Dengan mengurangi konsumsi makanan ultra‑proses, masyarakat dapat menurunkan risiko kematian dini yang kini lebih tinggi daripada akibat merokok. Perubahan pola makan sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat membawa dampak positif bagi kesehatan jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
BPOM Tegaskan Indonesia Jadi Pemain Utama ATMP Terapi Gen
Peringatan WMO: El Nino 2026 Siap Guncang Indonesia
Penyakit Ginjal Anak Naik, Minuman Manis Bertanggungjawab
Kista Ovarium: Kenali Jenis, Risiko, dan Solusi Laparoskopi
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
