Malang Kurangi Sampah Lebaran 2026, Mahasiswa Mudik Penyebab

Bayu K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 71 dibaca
Bisik.id
Malang Kurangi Sampah Lebaran 2026, Mahasiswa Mudik Penyebab

Gambar atau konten salah?

Kota Malang menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan kota besar lain saat Hari Raya Idul Fitri. Saat kebanyakan kota mengalami lonjakan sampah, Kota Malang justru mencatat penurunan volume limbah selama libur Lebaran 2026.

Fenomena ini dipicu oleh eksodus mahasiswa yang kembali ke kampung halaman. Kota Pendidikan ini memiliki populasi mahasiswa hampir setara dengan penduduk asli, sehingga kepulangan mereka memengaruhi aktivitas harian kota.

Menurut Pj. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, “Jumlah mahasiswa di Kota Malang hampir sama dengan penduduk asli. Bisa dibilang lebih dari 50 persen, mereka kemarin mudik sehingga cukup mengurangi timbulan sampah,” ujar ia kepada wartawan pada Kamis, 26 Maret 2026.

Data terbaru menunjukkan volume sampah yang masuk ke TPA Supit Urang turun dari angka normal 550–600 ton per hari menjadi sekitar 500 ton saja. Raymond menambahkan bahwa struktur demografi kota menjadi faktor utama. Kepulangan mahasiswa mengurangi jumlah pengunjung dan konsumsi barang, sehingga total sampah menurun.

Walaupun secara akumulatif menurun, konsentrasi sampah tetap meningkat di beberapa titik keramaian. Kawasan wisata seperti Kayutangan Heritage dan lokasi pelaksanaan salat Id menjadi pusat perhatian petugas kebersihan karena volume sampahnya lebih padat dibanding hari biasa.

Untuk menanggapi hal ini, DLH menyiagakan puluhan personel di lokasi strategis, termasuk Masjid Jami' dan Masjid Sabilillah. Raymond menjelaskan, “Ketangkasan petugas lapangan menjadi kunci agar tumpukan sampah di titik-titik tersebut tidak menetap lama.”

Koordinasi tim diatur melalui sistem pembagian shift kerja yang ketat, terutama di area publik yang ramai pengunjung. “Seperti di Kayutangan Heritage dan tempat-tempat salat Id, memang meningkat. Tapi kami sudah siapkan petugas, sehingga sebelum pukul 10.00 WIB sudah bersih semua,” pungkasnya.

Kasus ini menyoroti bagaimana perubahan demografi selama liburan dapat memengaruhi pola sampah kota. Penurunan volume sampah di Kota Malang tidak menandakan kurangnya kebersihan, melainkan perubahan dinamika penduduk dan aktivitas. Dengan koordinasi yang tepat, kota tetap dapat menjaga kebersihan meski terjadi fluktuasi konsentrasi sampah di titik-titik tertentu.

Kota MalangIdul Fitripenurunan limbaheksklus mahasiswaTPA Supit UrangKayutangan HeritageDLH

Komentar

Memuat komentar...