Men Jinggo, Pencipta Nasi Jinggo Bali, Meninggal Dunia
Gambar atau konten salah?
Men Jinggo, pencipta nasi jinggo khas Bali, meninggal dunia pada 09 Mei 2026. Kabar duka ini disampaikan oleh keluarga dan rekan chef melalui media sosial. Men Jinggo dikenal lewat kuliner nasi bungkus kecil yang legendaris sejak era 1970‑an.
Produk utamanya, nasi jinggo, awalnya dijual di kawasan Pelabuhan Sanggaran. Nasi ini berupa nasi kecil yang dibungkus dengan daun pisang, sehingga mudah dibawa dan dinikmati di mana saja. Sejak pertama kali muncul, nasi jinggo menjadi favorit di kalangan wisatawan dan penduduk lokal.
Nama “Jinggo” berasal dari panggilan anaknya, Jenggo, yang terinspirasi oleh film Django. Inspirasi ini memberi sentuhan unik pada nama produk, sehingga memudahkan orang mengingatnya. Kini, nasi jinggo dapat ditemui di banyak warung di Bali, menandai warisan kuliner yang masih hidup.
Di Jakarta, salah satu menu yang sering dipilih untuk makan bersama adalah ayam goreng satu ekor. Menu ini menawarkan variasi ayam kampung hingga ayam kremesan yang terkenal empuk. Pilihan ini cocok untuk acara kumpul keluarga atau teman-teman, karena dapat dimakan bersama sambal, lalapan, dan nasi hangat.
Beberapa tempat yang populer menyajikan ayam goreng satu ekor antara lain Ayam Goreng H. Mardun, Berkah Rachmat, dan Mbok Berek Ny. Umi. Harga mulai dari Rp 80 ribuan hingga Rp 138 ribu, tergantung ukuran dan tempat. Harga ini membuat menu ini tetap terjangkau bagi banyak orang.
Selain itu, warung tenda legendaris di Jakarta masih eksis meski sudah puluhan tahun berdiri. Warung ini menawarkan menu khas seperti seafood, nasi goreng, dan roti bakar kaki lima. Harga terjangkau dan cita rasa konsisten menjadi kunci keberhasilan mereka bertahan lebih dari 40 tahun.
Lokasi warung tenda tersebar di kawasan Blok M, Fatmawati, hingga Pecenongan. Banyak pelanggan tetap datang karena warung ini buka sampai larut malam, menyediakan menu legendaris yang selalu diminta.
Secara keseluruhan, kisah Men Jinggo dan warung tenda legendaris menyoroti bagaimana kuliner sederhana dapat menjadi bagian penting dari identitas budaya. Meskipun nama dan tempat berubah, rasa dan tradisi tetap hidup, memberi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk melestarikan warisan kuliner.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gemblong Viral: 5 Varian Terbaru di Jakarta dan Jawa Barat
Zangrandi: Es Krim Surabaya, 90 Tahun Sejarah dan Rasa Asli
Cecina vs Biltong: Duel Kuliner di Piala Dunia 2026
10 Kota Kuliner Terbaik 2026: Dua di Asia Tenggara
Rekor Dunia: Andre Ortolf Minum 1 Kg Madu dalam 1 Menit
Indomie Goreng Cabe Ijo Kembali, Jumbo, dan Jangkau Nasional
Berita Terbaru
BookCabin Fair 2026: Promo Tiket & Cashback di Surabaya
Jembatan Kaca Bromo Resmi Operasi, Sewa Lima Tahun
Zaki Ubaidillah Raih Kemenangan di Australian Open 2026
Chandra Asri dan UNTIRTA Luncurkan Program Jejak Asri
Delegasi Kamboja Kunjungi Gianyar, Pelajari Pengelolaan Sampah
DJBC Berhentikan Penyelundupan 8,26 Juta Rokok di Merak