Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menyampaikan pandangan tegas bahwa keputusan MSCI tidak selalu tepat. Pernyataan ini muncul setelah MSCI mengumumkan potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dradjad mengungkapkan, sebuah riset di Jerman menunjukkan adanya perbedaan pergerakan yang mencolok antara saham-saham dalam indeks Deutscher Aktien Index (DAX) dengan saham Jerman yang tercatat dalam indeks MSCI. Ketika mayoritas saham DAX mengalami penguatan, saham-saham Jerman yang masuk dalam indeks MSCI justru melemah.
"Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman investor domestik, ini tolong lakukan sendiri, hitung-hitungannya sendiri. Bahwa MSCI itu punya reputasi tinggi, iya. Bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar," tegasnya kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16 Oktober 2026).
"Ketika DAX ya, bursa Jerman itu naik tinggi, MSCI world, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," tambahnya.
Menurut Dradjad, kondisi pasar saham Jerman saat ini memiliki kemiripan dengan situasi yang dialami Indonesia. Namun, investor di Jerman dinilai lebih berani dalam menghitung dan menentukan sendiri keputusan investasinya, tanpa terlalu bergantung pada rekomendasi lembaga penilai internasional.
Lebih lanjut, Dradjad menyebutkan bahwa imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah jika dibandingkan dengan lembaga penyedia investasi lainnya. Ia juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya sangat didominasi oleh saham-saham dari Amerika Serikat.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik tidak sepenuhnya bergantung pada penilaian lembaga internasional tersebut.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini memang menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi oleh saham-saham Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen lainnya didominasi oleh saham teknologi.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi secara mandiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini merupakan respons langsung dari pengumuman MSCI tersebut. Proses konsultasi dengan pelaku pasar masih berlangsung, dan keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi saham dari Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen lainnya didominasi oleh saham teknologi.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses konsultasi dengan pelaku pasar masih berlangsung, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang dinilainya terlalu didominasi oleh saham-saham Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen di antaranya merupakan saham teknologi. Menurutnya, bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut, sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar AS.
Ia juga menyebut imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lainnya. Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini memang menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi oleh saham-saham Amerika Serikat. Sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30% di antaranya merupakan saham teknologi. Kondisi ini, menurutnya, membuat bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi hari ini merupakan respons atas pengumuman MSCI tersebut. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi oleh saham-saham dari Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen lainnya didominasi oleh saham teknologi. Ia menilai bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya menginginkan investor domestik untuk lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyebut imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lainnya. Ia menambahkan, sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari Amerika Serikat (AS).
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Potensi penurunan status ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi oleh saham Amerika Serikat. Sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30% di antaranya merupakan saham teknologi. Menurutnya, bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut, sehingga pergerakannya tidak selalu mencerminkan kondisi pasar negara berkembang.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini muncul karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi saham Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen di antaranya merupakan saham teknologi.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini muncul karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini memang berkaitan dengan pengumuman MSCI tersebut. Proses konsultasi dengan pelaku pasar masih berlangsung, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi saham-saham dari Amerika Serikat. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30 persen di antaranya merupakan saham teknologi. Ia menilai bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya mendorong investor domestik untuk lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses konsultasi dengan pelaku pasar masih berlangsung, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia. "Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Meski mengkritik, Dradjad tetap mengakui bahwa masukan MSCI menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia menegaskan bahwa tata kelola harus diperbaiki, tetapi investor domestik diminta untuk tidak sekadar mengikuti rekomendasi lembaga asing.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proses ini masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad juga menyoroti komposisi indeks MSCI yang menurutnya terlalu didominasi oleh saham-saham Amerika Serikat. Sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari AS, dan 30% di antaranya merupakan saham teknologi. Menurutnya, bobot Amerika terlalu besar dalam indeks tersebut.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini memang menyusul pengumuman MSCI tersebut. Prosesnya masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini muncul karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Dradjad menambahkan, imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lainnya. Sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari Amerika Serikat (AS).
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.
Meski demikian, Dradjad menegaskan bahwa masukan dari MSCI tetap menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya berharap investor domestik lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi sendiri.
"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI tersebut. Proses konsultasi dengan pelaku pasar masih berlangsung, dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut potensi penurunan status ini dipicu oleh kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.
"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16 Oktober 2026).
Pernyataan Dradjad ini menggarisbawahi pentingnya investor domestik untuk tidak hanya mengandalkan penilaian lembaga internasional. Meski pengakuan MSCI tetap menjadi perhatian pemerintah dalam reformasi pasar modal, ia menekankan bahwa pemahaman investor lokal terhadap kondisi pasar dalam negeri seharusnya menjadi pertimbangan utama. Keputusan final MSCI akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027, dan hingga saat itu, konsultasi dengan pelaku pasar masih terus berlangsung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
Wamenek: Investor Jangan Panik soal MSCI, Hitung Sendiri Potensinya
