Menteri PUPR Perpanjang Umur Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri
Gambar atau konten salah?
Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum, mengungkapkan upayanya memperpanjang umur Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Ia menekankan bahwa langkah pertama dimulai dari perbaikan hulu dan penambahan closure dike di tepi bendungan.
“Di Wonogiri itu ada empat kapal keruk yang pekerjaannya memang berusaha menahan (mengeruk sedimen), memang kapal keruknya tidak terlalu besar,” ujar Dody saat ditemui di Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari, Boyolali, pada 29 Maret 2026.
Ia menambahkan, “Sebenarnya ada cara lain kan, closure dike. Ada beberapa cara yang akan kita kerjakan agar lifetime-nya itu bisa nambah,” sambil menekankan pentingnya penambahan closure dike sebagai salah satu solusi.
Selanjutnya, Dody menjelaskan rencana pengerukan sedimen secara rutin. Ia menegaskan, “Dikeruk secara regular, kita pasang closure dike untuk menampung lumpur sebelum dia masuk ke dalam. Hulu kita yang rusak, makanya pertama kali kita minta tolong kepada balai dan pengelolaan bendungan coba deh kalian lihat tuh hulunya kan rusak, kita coba bareng masyarakat tanam pohon sama-sama,” katanya.
Dengan menanam pohon di hulu, ia berharap lumpur tidak menumpuk. “Itu salah satu cara sih untuk memperpanjang usia bendungan. Jadi pas hujan deras di hulu yang turun itu bukan lumpur, yang turun itu air lah,” pungkasnya.
Sejak Februari 2025, Dody pernah menyebut bahwa usia Waduk Gajah Mungkur tinggal 6 tahun lagi sejak mulai beroperasi pada 1981. Ia berharap langkah-langkah tersebut dapat menambah umur bendungan di atas 50 tahun.
Gagasan pembangunan waduk ini bermula pada masa kolonial Belanda, namun hanya diwujudkan setelah Indonesia merdeka. Menurut publikasi Pembangunan Waduk Gajah Mungkur Tahun 1976-1986 oleh Sri Utami, perencanaan dimulai pada 1964 sebagai bagian dari proyek irigasi dan pengendalian banjir Sungai Sala.
Studi kelayakan dan master plan dilakukan antara 1972-1974 dengan bantuan teknik dari Jepang melalui Overseas Technical Cooperation of Japan. Pembangunan resmi dimulai pada 1976, dibantu oleh Nippon Koei Co. Ltd sebagai konsultan teknik, dan pendanaan pinjaman dari pemerintah Jepang sebesar Rp 22 miliar lebih, sementara dana APBN mencapai Rp 36 miliar lebih.
Waduk ini dibangun di pertemuan berbagai aliran sungai di wilayah Wonogiri. Setelah selesai, kapasitasnya lebih dari 700 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 8.800 hektar, menutupi sebagian wilayah kecamatan di Wonogiri.
Secara keseluruhan, upaya Dody mencakup perbaikan hulu, penambahan closure dike, pengerukan rutin, dan penanaman pohon. Semua langkah ini bertujuan menahan lumpur dan memperpanjang umur bendungan, sehingga dapat melayani masyarakat lebih lama.
Dengan sejarah panjang dan dukungan teknis internasional, Waduk Gajah Mungkur tetap menjadi infrastruktur penting bagi irigasi dan pengendalian banjir di Wonogiri. Keberhasilan perpanjangan umur bendungan akan meningkatkan ketahanan air bagi daerah sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Berita Terbaru
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
