Menteri Purbaya: Pelemahan Rupiah Bukan Tanda Keterpurukan
Gambar atau konten salah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pandangannya tentang tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut membuat mata uang Indonesia menembus level Rp 17.300-an/US$ pada 23 April 2026.
Menurut Purbaya, tekanan nilai tukar rupiah saat ini bukanlah indikasi bahwa ekonomi domestik memburuk. Ia menegaskan bahwa, bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, posisi Indonesia masih lebih baik.
“Untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan, apa, dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat, cuma gerakan nilai tukarnya beda kan,” kata Purbaya dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, 24 April 2026.
Purbaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kondisi global dan gangguan informasi yang membentuk ekspektasi negatif pasar tentang kondisi ekonomi Indonesia. Ia menambahkan bahwa tugasnya sebagai Bendahara Negara hanya ingin membereskan gangguan‑gangguan tersebut.
“Ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan tiga bulan waktu itu kan, berarti dua bulan lagi, Juni, Juli, tetapi keadaannya nggak seperti itu,” jelas Purbaya.
Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tidak berubah dan bahkan akan semakin kuat karena pemerintah akan serius memperbaiki kendala‑kendala di perekonomian.
Selanjutnya, Purbaya menyerahkan kepada Bank Indonesia (BI) untuk melakukan upaya‑upaya demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Ia menegaskan, “Kita serahkan ini ke pengelola‑pengelolanya, regulatornya yang kita anggap mampu untuk mengendalikan,” tambahnya.
Purbaya juga membantah informasi yang beredar tentang rupiah sengaja dilemahkan. Ia mengingatkan bahwa beberapa negara memang melemahkan nilai tukar agar bersaing, namun Indonesia tidak melakukan hal serupa.
“Saya bilang nggak begitu. Ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada. Tetapi dalam jangka pendek kan ada negatif sentimen ketika itu. Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju level yang lebih lemah lagi,” imbuh Purbaya.
Dengan menegaskan bahwa nilai tukar dipengaruhi faktor eksternal dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi domestik, Purbaya menunjukkan keyakinan bahwa kebijakan moneter dan regulasi akan menjaga stabilitas rupiah. Ia menekankan bahwa komunikasi yang jelas dan transparan penting untuk mengurangi ekspektasi negatif di pasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
