Menyadari Bahaya Mengunyah Es Batu: Tanda Anemia Tersembunyi
Gambar atau konten salah?
Di banyak orang, mengunyah es batu dianggap sekadar kebiasaan sederhana. Namun, kebiasaan ini ternyata dapat menjadi tanda awal anemia dan masalah kesehatan lain.
Di dunia medis, gangguan makan tidak hanya terbatas pada diet ekstrem atau makan berlebihan. Ada kebiasaan kecil yang masuk dalam kategori gangguan makanan, salah satunya pagophagia. Pagophagia adalah keinginan terus-menerus untuk mengunyah es batu, serpihan es, atau makanan beku lainnya. Kondisi ini termasuk dalam gangguan Pica, di mana seseorang menyukai benda aneh atau non-makanan. Meski terlihat tidak berbahaya, pagophagia seringkali menjadi gejala klinis anemia atau kekurangan zat besi.
Menurut data yang dikumpulkan pada 02 April 2026, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan erat antara pagophagia dan anemia. Dalam satu studi, 13 dari 81 penderita anemia menunjukkan kebiasaan mengunyah es secara berlebihan. Pada beberapa kasus, keinginan tersebut berkurang setelah pasien mengonsumsi suplemen zat besi.
Selain faktor fisik, kondisi emosional juga dapat memicu kebiasaan ini. Orang yang sedang stres atau cemas sering menggunakan mengunyah es sebagai cara menenangkan diri. Bahkan, perilaku ini terkadang dikaitkan dengan gangguan obsesif kompulsif atau OCD, di mana seseorang terdorong melakukan tindakan berulang sebagai respons terhadap pikiran obsesif. Dehidrasi ringan juga dapat menjadi penyebab, karena tubuh yang kekurangan cairan membuat es batu terasa membantu melembapkan mulut sekaligus memberi sensasi lega di tenggorokan. Es batu juga dapat menurunkan suhu tubuh.
Meski terlihat tidak berbahaya, kebiasaan ngemil es batu dapat berdampak buruk jika dilakukan terus-menerus. Salah satu efek samping paling umum adalah kerusakan gigi. Mengunyah es dapat merusak enamel atau lapisan gigi, membuat gigi retak, hingga menyebabkan sensitivitas dan nyeri. Dalam kondisi tertentu, kerusakan gigi ini bahkan memerlukan perawatan medis. Kebiasaan ini juga dapat memengaruhi pola makan. Jika es batu yang dikonsumsi mengandung gula atau perasa tambahan, risiko kenaikan berat badan dan masalah kesehatan lain pun meningkat.
Efek samping yang paling serius terkait anemia dapat meluas. Mulai dari gangguan jantung, masalah kehamilan, hingga gangguan tumbuh kembang pada anak. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari gangguan pica, yang berisiko menyebabkan infeksi atau gangguan pencernaan. Jika kebiasaan ini terus berlanjut dan sulit untuk dihentikan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya dan mencegah dampak yang lebih serius.
Kesimpulannya, mengunyah es batu bukan sekadar kebiasaan biasa. Ia dapat menjadi indikator anemia, stres, atau gangguan emosional lainnya. Perhatikan pola kebiasaan ini, dan bila terasa tidak biasa, konsultasikan dengan tenaga medis. Dengan tindakan cepat, risiko kerusakan gigi, komplikasi kesehatan, dan gangguan pencernaan dapat diminimalisir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
El Nino Kuat Berlanjut di Pasifik, Prediksi NOAA Hingga Tahun
AB Plastic Surgery Menjadi Tuan Rumah IFAAS 2026 di Jakarta
Rupiah Lemah, BPJS Jaga Obat Tetap Tak Melewati 20%
Fatty Liver Meningkat di Indonesia Terkait Obesitas
Putri Bajrakitiyabha Meninggal 47 Tahun, Setelah Koma 4 Tahun
Brawijaya Hospital Perkenalkan 4 Center Eksklusif Mitra
Berita Terbaru
Puasa dan Doa 1 Muharram: 7 Amalan Rekomendasi Khusus
Taksi Otonom Waymo Terlibat Pencurian Studio Hot 8 Yoga
BOSP Tahap 2 2026: Sekolah Penuhi Syarat 20–30 Juni Juli
Pemerintah Selesaikan Prastudi 13 Proyek Hilirisasi Rp239 T
BookCabin Fair 2026: Promo Tiket & Cashback di Surabaya
Jembatan Kaca Bromo Resmi Operasi, Sewa Lima Tahun
Zaki Ubaidillah Raih Kemenangan di Australian Open 2026
Chandra Asri dan UNTIRTA Luncurkan Program Jejak Asri