Merokok Merusak Gigi dan Kanker Mulut: Fakta Baru Terbaru

Fajar H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Merokok Merusak Gigi dan Kanker Mulut: Fakta Baru Terbaru

Gambar atau konten salah?

Merokok sudah lama dikenal sebagai kebiasaan yang menurunkan kesehatan paru‑paru. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan. Menurut Jurnal Universitas Islam Sultan Agung, asap rokok juga dapat merusak gigi dan jaringan lunak di dalam mulut.

Studi tersebut menegaskan bahwa rokok meningkatkan risiko kanker mulut hingga karier gigi. Gigi dan jaringan lunak di rongga mulut menjadi sasaran kerusakan akibat paparan asap.

“Merokok tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik, tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya kondisi patologis di rongga mulut. Gigi dan jaringan lunak rongga mulut, merupakan bagian yang dapat mengalami kerusakan akibat rokok. Penyakit periodontal, karies, kehilangan gigi, resesi gingiva, lesi prekanker, kanker mulut, serta kegagalan implan, adalah kasus‑kasus yang dapat timbul akibat kebiasaan merokok,”

Selain gangguan paru, perokok memiliki risiko kanker rongga mulut yang lebih tinggi. Risiko tersebut dapat meningkat antara 2 hingga 4 kali lipat pada perokok dibandingkan non‑perokok.

“Merokok sebagai faktor predisposisi, dapat meningkatkan kemungkinan kanker rongga mulut sekitar 2-4 kali,”

Asap rokok mengandung sejumlah zat berbahaya. Komponen gasnya meliputi Karbonmonoksida, Karbondioksida, Hidrogen sianida, Amoniak, serta oksida nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Partikel padatnya terdiri dari tar, nikotin, benzanthracene, benzopiren, fenol, cadmium, indol, karbarzol, dan kresol. Semua zat ini bersifat karsinogenik, dapat mengiritasi, dan berpotensi menimbulkan kanker. Nikotin merupakan komponen yang paling banyak dijumpai di dalam rokok.

Kontak berulang dengan asap tembakau dapat menimbulkan keratosis, yaitu bercak putih dengan permukaan kasar dan keras. Rokok juga dapat menstimulasi melanosit mukosa mulut, sehingga melanin berlebihan terendapkan pada lapisan sel basal mukosa. Akibatnya, muncul pigmentasi coklat pada mukosa bukal dan gingiva, yang dikenal sebagai melanosis perokok.

“Keratosis yang berupa bercak putih dengan permukaan kasar dan keras pada palpasi, muncul akibat kontak kronis dengan asap tembakau. Rokok dapat menstimulasi melanosit mukosa mulut sehingga memproduksi melanin berlebihan. Melanin kemudian mengendap pada lapisan sel basal mukosa, sehingga terjadi pigmentasi coklat pada mukosa bukal dan gingiva, yang dikenal sebagai melanosis perokok. Merokok juga menyebabkan penurunan antibodi dalam saliva, yang berguna untuk menetralisir bakteri dalam rongga mulut, sehingga terjadi gangguan fungsi sel‑sel pertahanan tubuh,”

Asap rokok juga menurunkan antibodi di saliva, yang biasanya membantu menetralkan bakteri di mulut. Penurunan ini mengganggu fungsi sel‑sel kekebalan tubuh.

Inflamasi pada gingiva atau gusi sering terjadi pada perokok. Jika tidak dirawat, kondisi ini dapat mengurangi kolagen pada jaringan ikat, berpotensi menyebabkan resesi gingiva. Resesi gingiva dapat membuka akar gigi, meningkatkan risiko karies akar.

“Merokok juga dapat menyebabkan inflamasi pada gingiva atau gusi. Gingiva yang tidak terawat menyebabkan berkurangnya kolagen pada jaringan ikat sehingga berpotensi menyebabkan resesi gingiva yang akan berujung pada resiko karies akar.”

Perubahan vaskularisasi gingiva akibat merokok memicu inflamasi. Pembuluh darah kapiler melebar, aliran darah meningkat, dan agen-agen inflamasi masuk. Akibatnya, gingiva membesar dan populasi sel berubah, dengan peningkatan limfosit dan makrofag. Gingivitis yang tidak dirawat dapat berkembang menjadi periodontitis karena bakteri plak menembus di bawah margin gingiva. Akumulasi sel inflamasi kronis menghilangkan kolagen pada jaringan ikat gingiva. Tanpa kolagen, gingiva tidak menempel pada gigi, memicu resesi gingiva dan risiko karies akar.

“Perubahan vaskularisasi gingiva akibat merokok, menyebabkan terjadinya inflamasi gingiva. Dilatasi pembuluh darah kapiler, diikuti dengan peningkatan aliran darah pada gingiva dan infiltrasi agen‑agen inflamasi, menimbulkan terjadinya pembesaran gingiva. Kondisi ini diikuti dengan perubahan populasi sel, yaitu dengan bertambahnya jumlah Limfosit dan Makrofag. Gingivitis yang tidak dirawat, dapat berlanjut menjadi periodontitis akibat dari invasi kronis bakteri plak di bawah margin gingiva. Peningkatan vaskularisasi, diikuti dengan akumulasi sel‑sel inflamasi kronis, menyebabkan hilangnya kolagen pada jaringan ikat gingiva yang terpapar. Hilangnya perlekatan gingiva dengan gigi, menyebabkan terjadinya resesi gingiva, yang berakibat pada resiko karies akar,”

Dengan semua bukti ini, jelas bahwa merokok tidak hanya merusak paru, tetapi juga merusak gigi, jaringan lunak, dan sistem kekebalan mulut. Dampak-dampak tersebut dapat memicu penyakit periodontal, karies, kehilangan gigi, resesi gingiva, lesi prekanker, kanker mulut, dan kegagalan implan. Menjaga kebersihan mulut dan menghindari rokok menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan mulut secara keseluruhan.

merokokkanker mulutperiodontalresesi gingivakeratosis mulutmelanosis perokokkegagalan implan

Komentar

Memuat komentar...