Misi Saturnus: 17 Tahun, Bahan Bakar dari Titan
Gambar atau konten salah?
Sudah 65 tahun manusia mencoba menaklukkan luar angkasa. Pada 01 April 2024, kru Artemis II mencatat rekor jarak terjauh yang pernah dicapai manusia, menembus 406.771 kilometer dari Bumi. Angka ini menjadi batas jangkauan terjauh penjelajahan manusia ke dalam kosmos hingga kini.
Namun, muncul pertanyaan besar: seberapa jauh sebenarnya kita bisa mengirim manusia jika memang menginginkannya? Jika hari ini kita terpaksa mengirim orang ke Mars, situasinya mungkin akan sangat menantang, namun peluang keberhasilannya cukup besar. Pada jarak terdekatnya, perjalanan ke Planet Merah memakan waktu sekitar tujuh bulan.
Bagaimana jika targetnya adalah Saturnus? Bayangkan sebuah misi ambisius: terbang ke Saturnus, mengambil sampel dari Enceladus—bulan es dengan samudra dalam—dan Titan, yang memiliki danau metana. Sebuah studi menilai kelayakan misi ini dan hasilnya cukup mengejutkan. Diperkirakan, waktu yang dibutuhkan untuk pulang-pergi mencapai sekitar 17 tahun.
Kabar baiknya, teknologi pendukung untuk mewujudkan rencana gila ini sebenarnya sudah tersedia. Para ilmuwan punya ide brilian untuk memangkas massa bahan bakar yang harus dibawa dari Bumi. Strateginya, begitu tiba di Titan, para astronaut akan menghabiskan waktu beberapa tahun untuk mengolah atmosfer kaya metana dan es air di sana menjadi bahan bakar roket.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada kendaraan untuk pulang, yang wajib diisi ulang di Titan. “Apa yang kami tunjukkan adalah pada dasarnya sangat memungkinkan untuk membuat propelan dari bahan‑bahan yang kita miliki di Titan,” ungkap penulis studi Geoffrey Landis, fisikawan sekaligus ilmuwan roket di NASA. Skenario idealnya, beberapa misi tak berawak dikirim lebih dulu untuk memproduksi bahan bakar di sana. Jadi, saat kru manusia tiba, mereka tinggal mengisi tangki di ‘pom bensin antarplanet’ tersebut sebelum terbang pulang. Meski cara ini bisa memangkas waktu produksi bahan bakar, perjalanan tetap saja akan memakan waktu lebih dari satu dekade.
“Perjalanan pulang perginya memakan waktu yang sangat lama, 17 tahun berangkat dan pulang, jadi ini bukanlah misi yang cepat. Itu mungkin agak terlalu lama bagi manusia,” kata Geoffrey Landis ketika dijadikan kutipan.
Selain durasi, urusan logistik makanan juga menjadi persoalan pelik. Untuk perjalanan selama 17 tahun, jumlah makanan yang harus dibawa sangatlah masif. Astronaut cenderung membakar lebih banyak kalori dibandingkan manusia di Bumi. Karena belum bisa bercocok tanam dalam skala besar di luar angkasa, seluruh stok makanan harus dibawa sejak awal keberangkatan. Jika ingin praktis, astronaut bisa saja hanya mengonsumsi makanan padat kalori seperti minyak samin. Namun, demi menjaga kesehatan mental dan fisik, nutrisi seimbang tetap menjadi prioritas. Dengan alokasi sekitar 2 kilogram makanan per orang setiap hari, artinya satu orang astronaut membutuhkan lebih dari 12 ton makanan selama misi berlangsung.
Segala aspek dalam misi ke Saturnus ini memang berskala raksasa. Itu pun belum menghitung risiko mematikan seperti radiasi kosmik yang membutuhkan perisai ekstra pada pesawat, yang otomatis akan menambah beban berat kendaraan. “Itu akan menjadi perjalanan yang amat sangat panjang jika Anda menggunakan sistem propulsi kimia yang ada saat ini. Saya sangat menginginkan sistem propulsi berdaya dorong lebih kuat. Ini akan jadi sistem di mana Anda benar-benar akan memanfaatkan reaktor nuklir,” tambahnya.
Dengan semua faktor tersebut, misi ke Saturnus masih berada pada tahap konseptual. Namun, ide menciptakan bahan bakar di luar angkasa menunjukkan bahwa teknologi yang mendukung dapat berkembang lebih cepat daripada yang diperkirakan. Misi semacam ini menuntut kolaborasi antara peneliti, insinyur, dan lembaga luar angkasa, serta investasi jangka panjang. Jika berhasil, manusia akan memiliki cara baru untuk menjelajahi planet dan bulan yang lebih jauh dari Bumi, membuka pintu bagi eksplorasi kosmos yang lebih luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026