Musik Wasik Store: Toko Rilisan Fisik di Surabaya, Nostalgia

Rizki W. · 2 min baca · 17 hari lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Musik Wasik Store: Toko Rilisan Fisik di Surabaya, Nostalgia

Gambar atau konten salah?

Musik Wasik Store adalah toko rilisan fisik yang terletak di Surabaya. Di tengah dominasi platform streaming musik, toko ini menarik perhatian pecinta musik yang masih menghargai pengalaman analog.

Nama Musik Wasik Store merupakan singkatan dari Warung Klasik. Owner-nya, Tyo Sujadmiko, menjelaskan bahwa ia menyukai barang-barang klasik dan vintage. Ia ingin toko ini menjadi tempat bagi yang belum pernah merasakan pengalaman musik analog.

Di dalam toko, pengunjung dapat menemukan kaset pita, CD, dan piringan hitam (vinyl). Selain itu, ada juga pemutar musik era 1980-an hingga 1990-an yang bisa dicoba langsung. Toko ini beroperasi selama tujuh hingga delapan bulan, meski usaha sudah dirintis sejak masa pandemi.

“Sebenarnya kata ‘Wasik’ itu kepanjangannya Warung Klasik. Owner-nya memang suka tentang barang-barang klasik atau vintage stuff seperti itu. Tapi kalau Musik Wasik Store sendiri itu lebih ingin menjadi tempat, ya toko juga dan tempat untuk teman-teman yang belum pernah merasakan experience analog musik boleh datang. Putar kaset, putar CD, bahkan piringan hitam boleh,” ujar Tyo kepada 17 Mei 2026.

Musik Wasik tidak hanya berfungsi sebagai toko. Ia juga menjadi tempat nongkrong bagi komunitas pecinta musik analog. Pengunjung diberi kebebasan untuk mencoba koleksi yang tersedia. “Ya, silahkan datang, putar, ya experience‑lah. Kalian merasakan langsung,” tambahnya.

Harga kaset mulai Rp 35 ribu dan piringan hitam bisa mencapai Rp 600 ribu. Semua barang diklaim asli karena melalui proses kurasi kolektor hingga lelang. “Beberapa datang dari orang yang menawarkan, tapi kebanyakan koleksi pribadi. Mungkin owner‑nya bosan, pengen ganti hobi, dijual. Nyari di kolektor juga biar legit aja barangnya. Otentiknya terjaminlah,” jelasnya.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Tyo menilai rilisan fisik tetap memiliki nilai lebih dari sisi pengalaman dan kedekatan emosional. “Jadi kalau dibilang, ya sudah, semua punya kolamnya masing-masing. Saya pun juga masih dengerin kalau mau nyari referensi atau nyari musik kayak penasaran sama musik‑musik sekarang, ya saya nyarinya di digital platform, mau enggak mau. Setelah itu kalau cocok, biasanya nyari rilisan fisiknya. Soalnya musisi sekarang pun juga masih produksi kaset, produksi piringan hitam juga,” paparnya.

Walaupun lokasinya tersembunyi, Musik Wasik sering dikunjungi berbagai kalangan, mulai pelajar hingga wisatawan mancanegara. “Walau hidden gem, herannya banyak anak sekolah yang mungkin mampir ke Pos Bloc jadi melipir ke sini. Istimewanya mereka jauh dari Malaysia, Singapura, dan lain‑lain. Toko musik sekarang semakin jarang, kan. Aku gak bilang di sini toko musik satu‑satunya di Surabaya. Tapi aku emang gatau di mana yang proper bahkan bisa nongkrong di situ,” bebernya.

Tyo menambahkan bahwa pemilik toko tidak semata mengejar keuntungan, melainkan menjaga nilai koleksi dan keberlanjutan komunitas. “Ownernya gak mau ikut arus dikit‑dikit diskon, tapi ga naikin juga. Harga pasar aja. Asalkan ada standard, supaya value barang tidak turun. Intinya nongkrong aja dulu. Nanti kalau sudah familiar, sudah nyaman, bisnisnya akan jalan sendiri kok,” pungkasnya.

Musik Wasik Store menjadi contoh bagaimana toko fisik masih relevan di era digital. Ia menawarkan pengalaman langsung, koleksi asli, dan komunitas yang hangat. Bagi penggemar musik, tempat ini tetap menjadi pilihan bagi yang ingin merasakan nuansa analog secara nyata.

Musik Wasik StoreSurabayamusik analogkaset pitavinylkomunitaskoleksi asli

Komentar

Memuat komentar...