Nasi Jaha Manado: Hidangan Khas dengan Aroma Smoky dan Pedas
Gambar atau konten salah?
Manado, kota yang dikenal dengan ragam kuliner khasnya, menampilkan nasi jaha sebagai salah satu hidangan yang paling dicari oleh para traveler. Meskipun ada nasi kuning daun woka, nasi jaha tetap menjadi favorit bagi yang mengunjungi kota ini.
Nama jaha berasal dari bahasa Melayu Manado yang berarti jahe. Hidangan ini terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe yang dipadukan secara proporsional. Bahan-bahan yang sudah siap biasanya dibungkus dengan daun nasi atau daun woka, lalu dimasukkan ke dalam ruas bambu yang dilapisi daun pisang. Proses pembakarannya di atas bara api menghasilkan aroma smoky harum dan khas.
Rasa nasi jaha menggugah selera: gurih dengan sentuhan pedas hangat. Tekstur luarnya kecoklatan, kering, dan renyah berkat pembakaran, sementara bagian dalam tetap lembut dan pulen. Namun, nasi jaha paling nikmat saat dikonsumsi pada hari yang sama dibuatnya.
Meski proses pembuatan terdengar sederhana, ia memerlukan ketelitian. Pengukuran bahan harus pas; ukuran yang tidak tepat dapat membuat nasi jaha terasa tawar atau pahit. Selama pembakaran, nyala api harus stabil dan dijaga agar tidak gosong, karena hal ini memengaruhi kualitas akhir.
Hidangan ini biasanya disajikan bersama cakalang fufu, sambal roa, atau masakan rica‑rica yang pedas. nasi jaha mudah ditemukan di pasar tradisional, supermarket, rumah makan, penjual kue pinggir jalan, dan kafe di Kota Manado. Namun, karena sifatnya yang mudah rusak, nasi jaha tidak cocok sebagai oleh‑oleh bagi traveler yang melakukan perjalanan jauh, kecuali jika menggunakan penerbangan langsung. Hidangan ini hanya kuat bertahan selama tiga hari.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.
Secara keseluruhan, nasi jaha tetap menjadi ikon kuliner Manado yang tak boleh dilewatkan. Hidangan ini menonjolkan keunikan rasa, aroma, dan teknik memasak tradisional, serta menekankan pentingnya kesegaran dan ketelitian dalam setiap tahap pembuatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Dean Huijsen di Bali, Tidak Dipanggil Timnas Spanyol 2026
Perang Pandan Tenganan: Tradisi Daya Tarik Wisatawan
Kebakaran Bukit Sempana: 25 Pendaki Evakuasi, Tanpa Korban
Bandung Zoo Pindah Pengelola: Faunaland Kontrak 26 Tahun
PAHO Rilis Panduan Kesehatan bagi Wisatawan Piala Dunia 2026
Berita Terbaru
Penyerapan Pupuk Subsidi di Bandung Terhambat El Nino
Jadwal Sholat Jumat 12 Juni 2026 di 38 Wilayah Jawa Timur
Pertamina Dukung Konservasi Lebah di P4S Lembah Suhita
Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan Stadion Azteca
Piala Dunia 2026: Belanda Siap Menjadi Juara di Format Baru
Jadwal Puasa Sunnah Muharram 1448: Asyura, Tasu'a & Lainnya
Bandung Jewellery Fair 2026 Menarik Pecinta Perhiasan
Meksiko vs Afrika Selatan Pembuka Piala Dunia 2026 di Azteca
