Pantai Monggalan: Warga Tersisa Hadapi Gelombang Pasang

Dwi H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Pantai Monggalan: Warga Tersisa Hadapi Gelombang Pasang

Gambar atau konten salah?

Suara gemuruh ombak di Pantai Monggalan, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, kini menjadi teror bagi Wayan Galung (52). Pria yang berprofesi sebagai nelayan ini menyadari betul, keselamatan nyawa dan tempat tinggalnya hanya di ujung tanduk. Satu sapuan ombak besar lagi, rumah yang ia bangun pada 2011 lalu bisa langsung amblas digulung air laut.

Setelah mengungsi ke rumah saudara karena gelombang pasang ekstrem yang terus menghantam pesisir, Galung baru dua hari lalu memberanikan diri kembali ke rumahnya. Ia menjelaskan bahwa ia masih takut, tapi tidak ada pilihan lain karena rumah ini satu-satunya tempat tinggal mereka. Ia juga memutuskan untuk menahan pohon besar yang dulu menjadi peneduh, meski akar telah dikikis oleh abrasi.

“Baru dua hari ini saya balik ke sini setelah mengungsi. Khawatir sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, ini satu‑satu tempat tinggal kami. Pohon ini saya biarkan begini biar jadi penghalang sementara. Beberapa waktu lalu ada yang datang minta, nggak saya kasi,”

Kondisi di depan rumah Galung kini luluh lantak. Sebuah pohon besar yang dulunya menjadi peneduh dari terik pantai, tumbang tak berdaya akibat akarnya dikikis abrasi. Pohon itu menjadi saksi bisu betapa ganasnya gerusan air laut yang kian mendekat ke ruang tamunya.

Situasi di Pantai Monggalan sangat sepi dan memprihatinkan. Dari sekian banyak warga yang dulunya bermukim di pesisir ini, tersisa dua Kepala Keluarga (KK) saja yang masih bertahan. Warga lainnya sudah memilih angkat kaki karena rumah mereka hancur total atau ketakutan akan ancaman abrasi.

Gelombang tinggi tanpa ampun langsung menerjang dinding bangunan yang tersisa. Air laut bahkan meluap hingga masuk ke dalam rumah Galung. “Kalau air laut lagi pasang, ombaknya langsung menerjang dinding. Air masuk ke dalam rumah, menggenang sekitar sampai di bawah lutut,” keluhnya.

Dampak abrasi ini tidak hanya mengancam keselamatan fisik, tetapi juga mematikan urat nadi perekonomian warga. Istri Galung, Ni Made Wati (50), memiliki sebuah kios kecil di rumah mereka. Dulu, kios tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan yang lumayan dari nelayan atau warga yang bersantai di pantai.

“Sepi. Tapi begini tetap buka. Ada saja yang beli satu dua yang dari belakang,” ungkap Wati.

Berada dalam situasi darurat ini, Galung dan satu KK lainnya yang tersisa hanya bisa menggantungkan harapan pada kebijakan pemerintah. Mereka mendesak agar instansi terkait segera turun tangan melakukan penanganan konkret di Pantai Monggalan sebelum air laut benar-benar menenggelamkan sisa ruang hidup mereka. “Harapan kami satu‑satu sekarang adalah pemerintah segera membuat tanggul pengaman pantai (breakwater) di sini. Kalau tidak cepat ditangani, dalam beberapa minggu ke depan mungkin rumah kami sudah rata dengan laut,” pungkas Galung penuh harap.

Pemerintah Desa Kusamba sendiri telah mendata semua warganya yang terdampak. Termasuk Wayan Galung. Sejauh ini ia telah dijanjikan mendapatkan bantuan bedah rumah dengan lahan yang disediakan sendiri. Adapun warga yang tidak memiliki lahan, akan dibantu untuk dibangunkan hunian rumah deret.

“Kami tidak mau di rumah deret. Jadi saya minjem lahan saudara buat bedah rumah. Tapi saya tetap berharap semoga pemerintah bisa segera membuat tanggul. Jadi kami bisa tetap di sini,” pungkas Galung.

Ketidakpastian ini menyoroti betapa rapuhnya kehidupan warga pesisir di Pantai Monggalan. Gelombang yang terus menerjang, abrasi yang memakan tanah, dan hilangnya akses ekonomi menempatkan mereka pada ambang terombang-ambing. Harapan mereka bergantung pada tindakan cepat pemerintah, khususnya pembangunan tanggul, agar rumah dan kios mereka tidak langsung terendam laut. Dengan hanya dua keluarga yang tersisa, setiap keputusan menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.

Pantai MonggalanGelombang PasangAbrasiTanggulNelayanKiosPemerintah

Komentar

Memuat komentar...