Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak

Ayu W. · 3 min baca · 3 jam lalu · 36 dibaca
Bisik.id
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak

Gambar atau konten salah?

Di pinggir Jalan Kramat Kwitang, arah Monumen Nasional (Monas), di Jakarta Pusat, masih berdiri lima papan penanda yang mengumumkan “Jual Beli Dolar Rusak, Sobek, Koin” milik pedagang valuta asing kaki lima.

Rabu 03 Juni 2026, hanya tiga dari lima pedagang yang membuka gerobak. Dua di antaranya hanya bermodalkan bangku plastik, duduk di samping papan, menunggu siapa‑siapa yang ingin menukar uang. Satu pedagang lainnya membuka lapak kecil dengan satu etalase, menunggu warga yang ingin menjual mata uang.

Rohadi, 55 tahun, adalah salah satu pedagang valas kaki lima. Ia mengatakan praktik jual‑beli mata uang asing di pinggir jalan Kwitang sudah ada sejak tahun 1990‑an. “Waktu itu penuh pada berjejer, sekarang paling empat‑lima orang lah sampai ujung (persimpangan Jl. Pasar Senen), ini sebelah papannya ada tapi orangnya belum buka, sore biasanya dia mah,” ucap Rohadi saat ditemui.

Menurutnya, yang paling membedakan antara pedagang valas kaki lima dengan money changer resmi adalah mereka mau menerima uang asing meski dalam kondisi lecek, lusuh, hingga rusak seperti sobek sebagian. “Kalau kita terima dolar apa pun kondisinya, lecek atau sobek. Kan biasanya itu nggak diterima di money changer, makanya baru lari ke kita buat jual,” terangnya.

Nilai tukar uang asing rusak yang mereka terima memang berbeda dengan kurs yang digunakan oleh jasa penukaran valas resmi. Sebagai contoh, saat nilai tukar dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 17 500, ia menerima penjualan uang Paman Sam itu dengan harga Rp 16 500 / US$. “Terakhir tukar itu masih Rp 17 500 (per dolar), itu kita terima Rp 16 500. (Kalau sekarang naik dekat Rp 18 000/dolar AS?) ya paling tetap Rp 16 500, mentok‑mentok kalo dia minta naikkan ya jadi Rp 17 000 lah. Pokoknya terima dolar paling nggak Rp 1 000 di bawah),” jelas Rohadi.

Ia menjelaskan bahwa kondisi uang yang masih bisa diterima olehnya adalah jika lembaran yang rusak hanya di bagian pinggir atau robek tapi belum sampai terpisah. Bila robekan cukup besar dan uang dolar lusuh hingga lecek parah, maka nilai tukarnya akan semakin rendah. “Kalau rusaknya parah ya di bawah harga tadi, yang tergantung gimana kondisinya. (Kalau rusak parah?) tadi Rp 16 500 ya bisa Rp 16 000, bisa Rp 15 000, tergantung kondisi sama dia bisa terima harga berapa,” ujarnya.

Dalam hal ini, Rohadi mengatakan kondisi uang asing yang tidak bisa diterima jika sudah rusak hingga menghilangkan satu angka atau huruf dalam nomor seri. Artinya selama nomor seri uang masih bisa dibaca atau dikenali, maka setiap dolar atau mata uang lain masih bisa ia terima. “Kalau sobek setengah tetap diterima, yang penting masih utuh (sisa sobekan belum terputus atau masih ada), nomor serinya juga sama, jadi di kanan‑kiri sama atas‑bawah itu sama semua serinya,” terangnya.

Selain dolar, para pedagang valas kaki lima ini juga menerima banyak mata uang lain. Sebut saja dolar Singapura hingga mata uang benua biru, euro. Menurut Rohadi, selama mata uang itu memiliki nilai tukar di money changer, maka bisa mereka terima. “Kita terima semua (mata uang), dolar Singapura, ringgit Malaysia, atau riyal Arab kan. Iya, euro juga diterima. Pokoknya yang masih ada harganya di money changer kita terima,” tutur Rohadi.

Pengoperasian pedagang valas kaki lima ini sederhana. Mereka tidak memiliki fasilitas yang lengkap, hanya bangku plastik, papan penanda, dan satu etalase kecil. Namun, mereka tetap menjadi tempat bagi warga yang memiliki uang asing rusak, lecek, atau sobek. Karena money changer resmi menolak uang dalam kondisi tersebut, pedagang valas kaki lima menjadi alternatif yang menarik.

Jumlah pedagang valas kaki lima ini sudah turun drastis dibandingkan beberapa dekade lalu karena sepi pelanggan. “Kalau kita terima dolar apa pun kondisinya, lecek atau sobek. Kan biasanya itu nggak diterima di money changer, makanya baru lari ke kita buat jual,” terangnya lagi, menegaskan bahwa mereka masih bertahan karena modal utama yang berbeda.

Di tengah perubahan ekonomi dan regulasi, pedagang valas kaki lima tetap mempertahankan peran mereka sebagai penyedia layanan penukaran uang asing yang fleksibel. Mereka menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan money changer, namun tetap menerima uang dalam kondisi yang tidak bisa diterima di tempat resmi. Dengan demikian, pedagang valas kaki lima di Kwitang tetap menjadi bagian penting dalam jaringan ekonomi informal Jakarta.

pedagang valas kaki limauang asing rusakjual beli dolarKramat Kwitangmoney changernilai tukarmata uang asingekonomi informal Jakarta

Komentar

Memuat komentar...