Pemerintah Dukungan Pedagang Tahu Tempe, Fokus Nilai Tukar

Arif S. · 2 min baca · 55 menit lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Dukungan Pedagang Tahu Tempe, Fokus Nilai Tukar

Gambar atau konten salah?

Pemerintah menanggapi keluhan pedagang tahu dan tempe yang terpengaruh oleh melemahnya rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa upaya pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat nilai tukar, sehingga biaya produksi pelaku usaha dapat turun.

“Yang pertama kita mesti pastikan demand-nya terjaga, jadi ada yang beli. Terus yang kedua kalau rupiahnya menguat kan otomatis cost of production mereka turun,” kata Purbaya di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada hari Sabtu, 6 Juni 2026.

Ketika ditanya kapan kondisi tersebut bisa membaik, Purbaya menjawab bahwa hal itu tergantung pada keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan nilai tukar. Ia optimis hasilnya bisa terlihat lebih cepat jika kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras.

“Tergantung keberhasilan kita mengendalikan nilai tukar, tapi saya rasa akan berhasil dengan kerja sama yang erat antara fiskal dan moneter,” ujarnya. Purbaya tidak menargetkan kapan kebijakan tersebut mulai terasa, namun menegaskan perlunya kebijakan yang sinkron antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Nanti gua bilang Juni ribut tapi kalo kebijakan sinkron seperti ini akan cepat,” tuturnya.

Purbaya mengaku telah menerima keluhan pedagang dan produsen tahu‑tempe yang keuntungannya tergerus karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia menyebut pedagang terpaksa menaikkan harga mengingat adanya kenaikan biaya produksi.

Kenaikan biaya produksi ini terjadi karena bahan baku tahu dan tempe, yakni kedelai, diperoleh dari impor. Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah menyentuh Rp 18.036 hingga penutupan perdagangan, Jumat, 5 Juni 2025.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor, yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka,” ungkap Purbaya dalam keterangan persnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu, 6 Juni 2025.

Dalam konteks ini, pemerintah menekankan pentingnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk menstabilkan nilai tukar, yang diharapkan dapat menurunkan biaya produksi bagi pelaku usaha tahu dan tempe. Dengan langkah tersebut, diharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga meski terjadi fluktuasi nilai tukar.

rupiahpedagang tahupedagang tempenilai tukarkebijakan fiskalkebijakan moneter

Komentar

Memuat komentar...