Pengelolaan Sampah Mangkuyudan Jadi Contoh untuk Baturaja Timur
Gambar atau konten salah?
Bupati OKU Teddy Meilwansyah mengajak camat, lurah, dan ketua RT untuk melakukan kunjungan lapangan ke kawasan RT 05 Mangkuyudan, Kemantren Mantrijeron, Yogyakarta. Tempat ini sudah lama dikenal karena berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Tujuannya jelas: melihat langsung bagaimana warga di Mangkuyudan mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai ekonomi. “Rombongan mempelajari bagaimana warga Mangkuyudan melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga,” kata Bupati pada Senin (15 Juni 2026).
Prosesnya dimulai di pekarangan rumah. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran dipindahkan ke lubang biopori. “Ternyata sampah tersebut dicampur dengan molase sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat dan tidak menimbulkan bau. Hasilnya berupa pupuk kompos yang dipanen setiap tiga bulan sekali,” ujarnya kepada wartawan.
Setelah dipanen, kompos digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Warga menanam cabai, tomat, terong, dan sayuran lain di halaman rumah maupun di lorong permukiman. Hasil panen tersebut membantu mendukung ketahanan pangan keluarga.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik yang masih memiliki nilai jual dikumpulkan melalui bank sampah. “Kita kumpulkan plastik, lalu dijual kembali,” ungkap Bupati.
Menurutnya, kunjungan ini sengaja melibatkan para ketua RT, lurah, dan camat agar mereka dapat menyaksikan langsung praktik pengelolaan sampah yang berhasil diterapkan masyarakat. “Amati inovasi ini. Kita bisa menirunya, tetapi harus kita kembangkan dan modifikasi sesuai dengan kondisi daerah kita,” ujarnya.
Rencana selanjutnya adalah menerapkan konsep serupa di OKU. Kecamatan Baturaja Timur dipilih sebagai wilayah percontohan sebelum program ini diterapkan secara lebih luas. “Kita mulai tahap awal ini di Kecamatan Baturaja Timur dahulu. Jika berhasil, dapat ditularkan ke wilayah lainnya sehingga persoalan sampah di OKU bisa teratasi, bahkan sampah dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat,” tegasnya.
Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga diharapkan mendorong pemanfaatan pekarangan rumah dan lorong permukiman sebagai sumber ketahanan pangan. Dengan pendekatan berbasis masyarakat, OKU berupaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi bagi warga setempat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sumsel Tambah 4 Helikopter Buat Tanggul Karhutla Di Sumsel
Cerita Lila: Horror Baru di Bioskop, Tayang 18 Juni 2026
Gubernur Bengkulu Rencanakan Festival Tabut dan Semarak Merah Putih
Palembang Rayakan Usia 1.343 Tahun, IPM 83,27% dan Pembangunan Infrastruktur
Beruang Madu Terdeteksi di Perkebunan Wonosobo, Lampung
Anjangsana Polda Babel 80 Hari Bhayangkara di Pangkalpinang
Berita Terbaru
Tim Sepak Bola Indonesia Kalah 2-1 di Piala Dunia
Surabaya 18 Juni 2026: Jadwal Sholat Lengkap Imsak s/d Isya
Portugal dan RD Kongo Imbang 1-1 di Piala Dunia 2026
Denpasar: Jadwal Salat 18 Juni 2026, Subuh 05:07 Wita
Cuaca Jawa Timur 18 Juni 2026: Hujan Ringan, Berawan, Kabut
Portugal dan RD Kongo Seri 1-1 di Piala Dunia 2026
Hujan Membuat Suporter Portugal dan Kongo Semangat di Houston
Jadwal Sholat Jatim 18 Juni 2026: Subuh hingga Isya
Maxime Pellegrini: Pebasket 14 Tahun Raih Gelar Internasional Indonesia
Mahasiswa Bali: 6 Cara Seru Mengisi Waktu Luang di Bali
