Pertambangan Nikel: Pilar Transisi Energi Indonesia 2026

Vera T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Pertambangan Nikel: Pilar Transisi Energi Indonesia 2026

Gambar atau konten salah?

Sabtu, 23 Mei 2026, Bernardus Irmanto, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), tampil di Jogja Financial Festival dan mengangkat topik yang sering diperdebatkan: bagaimana industri pertambangan dipandang publik.

Ia memulai dengan menegaskan bahwa nikel dan mineral lain memiliki peran penting dalam transisi energi. "Nikel kemudian ada beberapa mineral lain itu digunakan untuk mendorong agenda transisi energi, jadi tujuannya baik. Tapi pertambangannya sendiri seringkali dinarasikan sebagai industri yang sangat destruktif. Kemudian industri destruktif ini yang menyebabkan pertambangan ini itu mendapatkan stigma yang negatif," ujarnya.

Selanjutnya, Irmanto menyoroti dampak stigma tersebut. "Pertambangan itu mendapatkan stigma yang negatif, kemudian mendapatkan sorotan, dan kemudian juga mendapatkan penalti-penalti yang menurutnya tidak sepenuhnya fair," ia katakan, menekankan bahwa sanksi seringkali tidak sebanding dengan kontribusi industri.

Ia menjelaskan bahwa pertambangan mendukung sektor lain, khususnya agrikultur dan perumahan. Pupuk yang diproduksi dari hasil tambang memberi nutrisi bagi tanaman, sementara besi dan nikel menjadi bahan baku bangunan. “Agri­kultur membutuhkan pupuk yang diproduksi menggunakan salah satu hasil tambang. Sementara pembangunan gedung dan perumahan, biasanya membutuhkan produk nikel hingga besi,” jelasnya.

Menurut Irmanto, persepsi publik perlu diubah. "Narasi yang harus diperbaiki, walaupun memang betul tambang ini mengubah landscape lingkungan. Tetapi tanpa tambang, menurut saya pribadi, alokasi daratan itu menjadi lebih buruk," tambahnya.

Ia menutup dengan menyoroti pentingnya mineral dalam mengatasi perubahan iklim. "Mineral itu diperuntukan untuk meningkatkan kehidupan manusia secara khusus dalam agenda transisi energi memperbaiki atau membantu mengatasi isu-isu climate changes," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa hanya 1% darat di dunia yang menjadi lokasi bukaan tambang, sementara bukaan terbesar daratan dipakai untuk agrikultur dan perumahan.

Secara keseluruhan, Irmanto menegaskan bahwa pertambangan, meski sering disalahpahami, tetap menjadi tulang punggung pembangunan dan transisi energi di Indonesia. Ia menyerukan perubahan narasi agar kontribusi positif industri ini lebih diakui.

PertambanganNikelTransisi EnergiStigma PublikAgrikulturPembangunanPerubahan IklimNarasi

Komentar

Memuat komentar...