Pertamina LLA‑6: 1.321 BOPD, 2 MMSCFD Gas dalam 33 Hari
Gambar atau konten salah?
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) baru saja mengumumkan hasil produksi dari sumur minyak dan gas (migas) pengembangan LLA‑6 di Platform LLA, perairan utara Jawa Barat. Sumur ini menghasilkan 1.321 barel minyak per hari (BOPD) dan 2 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas.
Senior Manager Subsurface Development & Planning PHE ONWJ, Adang Sukmatiawan, menegaskan bahwa minyak yang keluar bersifat murni. Menurutnya, “minyak yang dihasilkan dari sumur tersebut minyak murni. Hal ini karena semburan hidrokarbon dari sumur ini mengalir deras secara natural dengan kadar air (Basic Sediment and Water/BSW) 0%.”
Adang menambahkan bahwa keberhasilan LLA‑6 berakar pada pelajaran yang diambil dari sumur LLE‑5ST yang dibor tahun lalu. “Keberhasilan sumur LLA‑6 ini kami dapatkan dari lesson learned Sumur LLE‑5ST yang kami bor tahun lalu. Mengingat lapisan targetnya sama, formulasi dan strateginya kami sempurnakan. Hasilnya terbukti, kami bisa mendapatkan produksi yang sangat baik dengan eksekusi yang jauh lebih matang,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 18/62/2026.
Proses pengeboran dimulai pada 24 Maret 2026 menggunakan rig PVD‑II secara directional. Mata bor menembus hingga kedalaman akhir 5.407 kaki kedalaman terukur (feet measured depth/ftMD) atau setara dengan 3.561 feet true vertical depth (ftTVD). Seluruh fase, mulai dari pengeboran hingga uji alir produksi pada 2 Mei 2026, selesai dalam 33 hari.
Kecepatan tersebut didukung oleh operasi laut yang lancar. Semua mobilisasi alat dan unloading material dari kapal ke fasilitas rig berjalan presisi, tanpa kendala cuaca atau logistik. Sumur LLA‑6 menjadi sumur pengeboran pertama di Anjungan LLA setelah lebih dari 24 tahun tidak ada aktivitas di Platform LLA.
Tim Subsurface bekerja sama intensif dengan berbagai pihak untuk mengatasi tantangan di Platform LLA, seperti isu bubble di dasar laut, risiko shallow gas hazard, dan risiko drilling fluid loss di lapisan parigi dan pre‑parigi. Dengan perencanaan detil management losses, aplikasi studi geomekanik, dan program pengeboran terintegrasi, pengeboran LLA‑6 berhasil diselesaikan dengan baik.
Sumur ini menembus lapisan LL‑30 lebih updip 60 kaki daripada LLE‑5ST. Tim Subsurface telah menyiapkan peralatan pengeboran, mulai dari pengambilan gradient tekanan hingga analisa komprehensi, yang membuktikan LL‑30 masih berpotensi dan telah terbukti menghasilkan minyak. Data sumur LLA‑6 menunjukkan potensi yang lebih besar dari lapisan LL‑30 di area baru selatan, yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pengeboran sumur berikutnya.
Durasi pengerjaan singkat ini langsung berdampak positif pada efisiensi anggaran. Menurut estimasi lapangan terkini, total biaya yang terserap untuk LLA‑6 hanya berada di angka 61,5% dari Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui SKK Migas. Penghematan hingga nyaris 40% ini menjadi toreh prestasi tersendiri.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, mengapresiasi kerja keras seluruh tim. Baginya, capaian hasil maksimal dengan biaya efektif ini adalah wujud nyata dari upaya ketahanan energi domestik yang berkelanjutan. “Eksekusi rencana kerja yang aman, tuntas lebih cepat, dan dengan hasil yang jauh lebih baik ini merupakan pembuktian dari spirit PHE ONWJ, yakni “Safer, Faster, Better”. Keberhasilan ini sangat istimewa karena kita tidak hanya memikirkan seberapa besar lifting yang didapat, tapi juga seberapa efisien biaya yang dikeluarkan,” tegas Muzwir.
Muzwir menyatakan bahwa seluruh armada dan tim PHE ONWJ kini mengalihkan fokus operasional. Mata bor disiapkan kembali untuk menembus target berikutnya di Sumur LLA‑5 dan LLA‑7. “Masih ada beberapa rencana kerja bor dengan target lapisan yang sama ke depannya. Mohon doa agar hasil dari Sumur LLA‑5 dan Sumur LLA‑7 nanti bisa menyamai, atau bahkan lebih baik. Kami selalu melakukan ikhtiar dan doa terbaik untuk menggenjot produksi migas Indonesia. Bersama kita bisa,” tutupnya.
Secara keseluruhan, sumur LLA‑6 menandai langkah penting bagi PHE ONWJ dalam mengoptimalkan produksi migas di wilayah utara Jawa Barat. Hasil produksi yang tinggi, biaya yang terkontrol, dan proses yang cepat menunjukkan bahwa strategi dan pelaksanaan yang matang dapat menghasilkan manfaat signifikan bagi perusahaan dan energi nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
