Pertamina Tanda Tangan MoU Bioetanol Kunci E20 2028

Bima J. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Pertamina Tanda Tangan MoU Bioetanol Kunci E20 2028

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina (Persero) menegaskan dukungannya terhadap visi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan dan kemandirian energi nasional. Langkah ini difokuskan pada pengembangan bioetanol yang memanfaatkan sumber daya domestik.

Penandatanganan tiga nota kesepahaman strategis (MoU) berlangsung di Jakarta pada 27 April 2026. Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) bersama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) dan PT Medco Energi Internasional Tbk melalui PT Medco Intidinamika menandatangani MoU tersebut. Tiga kesepakatan berfokus pada revitalisasi pabrik bioetanol di Lampung, pembangunan pabrik baru di Bone, Sulawesi Selatan, dan pengembangan pabrik berbasis molase bersama Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PTPN III.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menulis keterangan tertulis pada 29 April 2026:

"Implementasi bioetanol ini tidak bisa ditunda lagi. Target E20 pada 2028 membutuhkan lompatan besar, baik dari sisi pasokan maupun infrastruktur. Karena itu, kolaborasi seperti yang dilakukan hari ini menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan produksi, kepastian offtaker, serta ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pemerintah juga terus menyederhanakan regulasi agar pelaku usaha dapat bergerak lebih cepat,"

Kolaborasi lintas sektor ini memadukan keahlian PTPN III dalam penyediaan bahan baku perkebunan, Medco dalam pengembangan industri dan infrastruktur, serta PNRE Pertamina dalam mendorong hilirisasi bioetanol sebagai energi bersih. Tujuannya adalah membangun ekosistem terintegrasi yang dapat direplikasi di seluruh negeri.

Kesepakatan pertama menargetkan revitalisasi pabrik bioetanol di Lampung. Pabrik ini akan beroperasi dengan kapasitas dan rantai pasok berbasis multi-feedstock, termasuk ubi kayu dan komoditas lain yang tersedia di wilayah tersebut.

Kesepakatan kedua berfokus pada pembangunan pabrik bioetanol baru di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Pembangunan ini didukung oleh pengembangan lahan dan rantai pasok bahan baku berbasis ubi kayu, jagung, dan tebu, sehingga dapat memanfaatkan potensi lokal secara maksimal.

Kesepakatan ketiga, yang disampaikan oleh PNRE, menargetkan pengembangan pabrik bioetanol berbasis molase yang terintegrasi dengan industri gula nasional. Sinergi Gula Nusantara akan menjadi mitra utama dalam proyek ini.

"Adapun kerja sama ketiga antara Pertamina NRE dan Sinergi Gula Nusantara diarahkan pada pengembangan pabrik bioetanol berbasis molase yang terintegrasi dengan industri gula nasional," tuturnya.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Ia menegaskan bahwa sumber energi terbaik adalah yang berasal dari dalam negeri.

"Adapun kolaborasi ini membuka jalan bagi pemanfaatan energi terbarukan berbasis potensi domestik. Melalui sinergi Pertamina Group dengan sektor perkebunan dan mitra strategis, kami optimistis program bioetanol dapat mendorong substitusi impor dan memperkuat kemandirian energi nasional,"

CEO Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa pengembangan bioetanol merupakan bagian dari roadmap strategis dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Ia menilai kebutuhan bioetanol nasional untuk mencapai target E20 pada 2028 diperkirakan mencapai 3 hingga 5 juta kiloliter.

"Kebutuhan bioetanol nasional untuk mencapai target E20 pada 2028 diperkirakan mencapai 3 hingga 5 juta kiloliter. Untuk itu diperlukan pembangunan sejumlah fasilitas produksi di berbagai wilayah dengan pendekatan multi feedstock dan multi distribution dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku yang berbeda di setiap daerah serta potensi kearifan lokal," ungkapnya.

Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, menegaskan bahwa kolaborasi ini membangun ekosistem bioetanol terintegrasi dari hulu ke hilir. Ia menekankan manfaat ekonomi bagi masyarakat, termasuk kepastian pasar bagi petani dan stabilitas pasokan bagi industri.

"PTPN akan memastikan ketersediaan feedstock, sementara Pertamina mendorong hilirisasi energi. Ini bukan sekadar proyek, tetapi upaya bersama untuk membangun masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan,"

Sejak beberapa tahun terakhir, Pertamina telah aktif memajukan ekosistem bioetanol terintegrasi. Pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, kolaborasi dengan Toyota Tsusho di Lampung, pilot project berbasis aren di Garut yang melibatkan kelompok perhutanan sosial, serta kerja sama internasional dan investasi strategis di sektor energi terbarukan menjadi contoh nyata komitmen tersebut.

Pengembangan bioetanol kini menjadi bagian penting dari arah strategis Pertamina ke depan. Perusahaan berencana terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna memastikan kesiapan implementasi dan memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

PertaminabioetanolPTPN IIIE20molaseenergi bersihkolaborasi lintas sektor

Komentar

Memuat komentar...