Peternak Bebek Sidrap Naikkan Pakai Ikan Sapu

Sinta R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Peternak Bebek Sidrap Naikkan Pakai Ikan Sapu

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, peternak bebek menemukan peluang baru ketika ikan sapu‑sapu diolah menjadi pakan ternak. Inovasi sederhana ini mengakibatkan peningkatan tajam pada produksi telur dan pendapatan peternak.

Peternak bernama Senibar mengungkapkan bahwa 150 ekor bebeknya mampu memproduksi telur maksimal ketika diberi pakan olahan ikan sapu‑sapu yang dicampur dedak dan jagung. Setiap hari, rata‑rata 120 butir telur keluar dari ternak tersebut. “Alhamdulillah sangat terasa manfaat memanfaatkan ikan sapu‑sapu ini menjadi pakan ternak bebek,” kata Senibar kepada wartawan pada 30 April 2026.

Menurutnya, produksi telur mencapai sekitar 80 persen. “Saya belum pernah pakai pakan modern tapi saya rasa kalau dibandingkan dengan pakan ikan sapu‑sapu jelas jauh menguntungkan karena ini gratis dan sudah teruji bebek mampu bertelur dengan baik,” tambahnya.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan bahwa pemanfaatan ikan sapu‑sapu sebagai pakan ternak meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Ia menyatakan bahwa di satu desa, peternak dengan populasi sekitar 10.000 ekor bebek dapat menghasilkan pendapatan besar. “Dalam satu hari pendapatan peternak bisa mencapai sekitar Rp10 juta. Kalau dihitung, dalam sebulan itu bisa mencapai kurang lebih Rp300 juta,” ujarnya.

Syahar menilai bahwa pendapatan tersebut akan terus tumbuh. “Kalau dikalkulasikan dalam satu periode lima tahun, itu bisa tembus sekitar Rp3 miliar dalam setahun dari sektor tersebut,” jelasnya. Ia menargetkan pengembangan pemanfaatan ikan sapu‑sapu ke tahap industri, dengan bahan baku melimpah di Danau Sidenreng. “Ke depan akan jadi pakan resmi dan dikemas dengan baik,” tambahnya.

Program ini masih berada pada fase uji coba dan pengembangan. Setelah fase uji coba dinyatakan berhasil, pemerintah akan mendorong produksi pelet sebagai pakan ternak komersial. “Setelah fase atau tahap awal selesai, kita akan masuk ke produksi pelet dan seterusnya,” ujarnya.

Inovasi ini sudah dipikirkan sejak 2024, namun pengembangannya baru serius setelah Syahar menjabat sebagai bupati. “Setelah saya menjadi bupati, kami bersama Dinas Peternakan dan Perikanan mengkaji lebih dalam. 01 March 2025 mulai distribusi bantuan, asesmen, uji coba, dan melihat langsung di lapangan,” jelasnya.

Program tersebut diperkuat dengan pemberian bantuan ternak bebek kepada masyarakat pada 01 November 2025. Hasilnya mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir. “Setelah bantuan diberikan, 01 January 2025 mulai bertelur, 01 February 2025 sudah berjalan. Sekarang ini sudah masuk fase empat bulan uji coba dan enam bulan ke depan masih tahap pengembangan,” ungkapnya.

Untuk melindungi inovasi, Pemerintah Kabupaten Sidrap mendaftarkan hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas pengolahan ikan sapu‑sapu menjadi pakan ternak ke Kementerian Hukum. “Kami sudah mengundang Kementerian Hukum, dalam hal ini Kanwil Hukum, di bidang HAKI dan paten. Ini sudah kami daftarkan atas nama Pemerintah Kabupaten Sidrap,” kata Syahar.

Syahar berharap langkah tersebut dapat memperluas pemanfaatan ikan sapu‑sapu. Ia menilai inovasi ini bukan hanya solusi pengendalian hama perairan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga, khususnya peternak di wilayah pesisir Danau Sidenreng. “Jadi pemanfaatan ikan sapu‑sapu ini punya dua tujuan. Pertama agar populasi ikan sapu‑sapu ini dapat ditekan sehingga ekosistem ikan seperti ikan nila dan sebagainya di Danau Sidenreng juga bisa berkembang,” jelasnya.

Dengan pendapatan yang terus meningkat, peternak di Sidrap kini melihat masa depan yang lebih stabil. Peningkatan produksi telur, pendapatan harian, dan potensi pendapatan jangka panjang menjadi indikator positif bagi ekonomi desa. Inovasi sederhana ini menunjukkan bagaimana sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, menguntungkan peternak sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan.

ikan sapu‑sapupakan ternakpeternak bebekproduksi telurpaten HAKIekosistem Danau Sidenrengpendapatan peternakindustri pakan

Komentar

Memuat komentar...