Petrokimia Gresik Atasi Krisis Pasokan Sulfur Timur Tengah

Wahyu T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Petrokimia Gresik Atasi Krisis Pasokan Sulfur Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Petrokimia Gresik dipimpin oleh Direktur Utama Daconi Khotob, yang menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan dan harga sulfur global. Ia menulis pada 01 April 2026 bahwa situasi ini memaksa perusahaan memperkuat strategi pasokan bahan baku.

Daconi mengungkapkan bahwa 75% kebutuhan sulfur nasional masih diimpor dari kawasan Timur Tengah. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sekitar 33% perdagangan sulfur dunia atau 20 juta ton per tahun berasal dari Teluk Persia. “Indonesia masih mengimpor lebih dari 75% kebutuhan sulfur dari kawasan Timur Tengah, dan konflik geopolitik serta gangguan jalur logistik global dapat mempengaruhi harga dan pasokan sulfur dunia,” ujarnya.

Di sisi lain, Petrokimia Gresik memiliki pabrik asam sulfat dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun. Fasilitas ini terintegrasi dengan produksi pupuk dan produk kimia lainnya. “Kami memiliki fasilitas pengolahan sulfur menjadi asam sulfat yang terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan produk kimia. Melalui fasilitas ini, Petrokimia Gresik juga berkontribusi pada penguatan pasokan bahan baku industri dalam negeri,” jelas Daconi.

Menurutnya, kebutuhan asam sulfat nasional mencapai 19 juta ton per tahun, dengan sektor pupuk dan industri hilirisasi nikel menjadi konsumen terbesar. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu pusat permintaan sulfur dunia. “Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan industri pupuk dan kimia nasional, mengingat sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK, serta digunakan dalam berbagai industri seperti pengolahan logam, pengolahan air, dan industri kimia lainnya,” tambahnya.

Untuk mengatasi ketidakpastian pasokan, Petrokimia Gresik telah menerapkan strategi diversifikasi sumber sulfur, kontrak jangka panjang, dan penguatan infrastruktur penyimpanan serta distribusi. Daconi menegaskan bahwa strategi ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga, sekaligus memperkuat ketahanan industri pupuk dan kimia nasional.

Indonesia kini menjadi pusat permintaan global sulfur, dipacu oleh kebijakan hilirisasi mineral dan ekspansi rantai pasok baterai nikel. Pertumbuhan produksi kendaraan listrik (EV) menambah tekanan pada kebutuhan sulfur. Selain itu, proses high-pressure acid leaching (HPAL) yang menggunakan asam sulfat dalam jumlah besar, serta regulasi lingkungan yang semakin ketat, turut meningkatkan permintaan sulfur.

Daconi menekankan bahwa fokus utama Petrokimia Gresik adalah menjaga stabilitas pasokan dan produksi agar kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi. “Kami terus melakukan upaya optimal dalam menjaga keberlangsungan produksi melalui penguatan supply chain dan kapasitas domestik, sehingga kebutuhan pupuk nasional dapat tetap terpenuhi dengan baik sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional,” tutupnya.

Dengan strategi yang terfokus pada diversifikasi pasokan, kontrak jangka panjang, dan penguatan infrastruktur, Petrokimia Gresik berusaha mengamankan posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok sulfur global. Keberhasilan upaya ini akan mempengaruhi stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku bagi industri pupuk dan kimia di tanah air.

Petrokimia GresiksulfurpasokanTimur Tengahasam sulfatindustri pupukdiversifikasi sumber sulfur

Komentar

Memuat komentar...