Plastik Lamongan Naik 100%: Pedagang Terkejut Pasar Baru
Gambar atau konten salah?
Di pasar tradisional Lamongan, harga plastik mengalami lonjakan tajam. Pada Sabtu, 11 April 2026, banyak pedagang di Pasar Baru melaporkan kenaikan harga hingga 100 persen setelah Lebaran. Perubahan ini dipicu oleh konflik global yang mengganggu pasokan bahan baku.
Melalui pengamatan di beberapa toko grosir, hampir semua jenis plastik—dari PE, PP, hingga gelas sekali pakai—menunjukkan kenaikan. Pedagang grosir Sebrian Farid Sandi mengamati lonjakan ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengatakan, “Kenaikan bervariasi mulai 60 persen hingga menyentuh 100 persen, dan terasa semakin signifikan setelah Hari Raya Idul Fitri.”
Farid menambahkan, “Yang sebelumnya Rp11 ribu sekarang jadi Rp19 ribu per pak. Gelas plastik yang dulu Rp8 ribu sekarang bisa sampai Rp20 ribu per slop.” Ia menekankan bahwa kenaikan harga ini tidak lepas dari dampak konflik internasional yang memengaruhi pasokan dan harga bahan baku plastik di pasaran. “Banyak pelanggan terkejut dengan lonjakan harga tersebut,” ujarnya.
Selain plastik kiloan, perlengkapan usaha kuliner seperti gelas plastik juga merasakan kenaikan tinggi. Farid mengakui omzetnya tetap stabil karena plastik menjadi kebutuhan utama bagi pedagang lain, namun ia khawatir jika harga terus naik. Ia menambahkan, “Sebelumnya ya cuma Rp9 ribu, Rp8 ribu per slop. Kalau sekarang bisa Rp12 ribu, ada yang sampai Rp20 ribu.”
Para pelaku usaha kecil juga merasakan beban. Suhardi, pedagang es batu yang sering membeli plastik di Pasar Baru, terpaksa menaikkan harga jual agar tidak merugi. Ia berkata, “Modal plastik dulu Rp9.500, sekarang jadi Rp15 ribu per pak. Terpaksa harga jual ikut naik.”
Kenaikan harga plastik menambah beban operasional UMKM. Mereka khawatir dampak ini akan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk menutup biaya produksi yang meningkat, penyesuaian harga jual menjadi langkah tak terhindarkan. “Kita harus memutar otak agar usaha tetap berjalan dan tidak merugi,” ungkap Suhardi.
Para pedagang dan pelaku usaha berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka menekankan bahwa plastik merupakan kebutuhan utama dalam aktivitas usaha sehari-hari, terutama bagi sektor usaha kecil. “Harapannya, kalau bisa plastik kembali ke harga dulu lagi. Kalau kemahalan kami sulit, Mas. Kasihan juga yang jualan kalau bahan bakunya mahal,” pungkasnya.
Situasi ini mencerminkan bagaimana konflik global dapat memengaruhi harga bahan baku lokal. Di tengah ketidakpastian pasokan, pelaku usaha di Lamongan harus menyesuaikan strategi harga untuk menjaga kelangsungan bisnis. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, diharapkan harga plastik dapat kembali stabil, memberi ruang bagi UMKM untuk berkembang tanpa tekanan biaya yang berlebihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
