Pohon Rejasa Salatiga: Langka Karena Pertumbuhan Lambat
Gambar atau konten salah?
Pohon Rejasa atau Elaeocarpus grandiflorus menjadi simbol flora khas Kota Salatiga. Di tengah kekayaan hayati Indonesia, setiap daerah menampilkan tanaman unik yang sekaligus menjadi bagian warisan alam. Namun, pohon ini kini semakin jarang terlihat, karena pertumbuhan dan perkembangan yang lambat.
Menurut penelitian yang diterbitkan di Jurnal Unnes, faktor utama mengapa pohon Rejasa semakin langka adalah laju pertumbuhannya yang sangat lambat. Artikel tersebut meneliti kalus Rejasa dari eksplan tangkai daun pada kondisi gelap, menyoroti betapa sulitnya mempercepat pertumbuhan spesies ini.
Secara ilmiah, pohon ini dikenal dengan nama Elaeocarpus grandiflorus. Ia tidak hanya tumbuh di Salatiga, melainkan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sunda, hingga Sumatera. Setiap daerah memberi nama berbeda: di Sunda disebut anyang-anyang dan ki ambit, di Sumatera juga anyang-anyang, sedangkan di Jawa ada anyang-anyang, kemaitan, maitan, raja sor, hingga rejasa yang dikenal di Salatiga.
Rejasa tumbuh tinggi antara 6 hingga 26 meter. Daunnya berbentuk lanset, bertangkai, dan biasanya berjejal di ujung ranting. Daun tua berubah warna menjadi merah api, menambah daya tarik visual. Bunga tumbuh dalam tandan menggantung, masing‑masing berjumlah 4–6 bunga. Panjang bunga berkisar 2–10 cm dengan tangkai bunga 3–4,5 cm. Kelopak berwarna merah cerah, bertekstur berambut. Mahkota bunga berwarna putih, bersisik di pangkal, melebar ke ujung, dan terbagi menjadi beberapa taju panjang 2–2,5 cm. Bagian dasar bunganya memiliki tonjolan berambut halus yang rapat dengan benang sarinya yang juga berambut. Kepala putik tidak melebar, bakal buah berbentuk telur dan berambut. Buahnya menyerupai kapsul atau bulatan kecil memanjang, keras, berwarna hijau pucat, panjang sekitar 3 cm.
Semua bagian pohon Rejasa mengandung senyawa bioaktif. Daun memuat tannin, geraniin, trimethoxy geraniin, saponin, flavonoid, dan polifenol. Buah mengandung saponin, flavonoid, dan tannin. Kulit batang mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Ekstrak serbuk Rejasa mengandung alkaloid, tannin galat, dan sejumlah flavonoid. Saponin, khususnya, memiliki fungsi antivirus, antitumor, antiinflamasi, antijamur, mengatur sistem kekebalan tubuh, dan menurunkan kolesterol.
Di bidang industri, kayu Rejasa dipakai untuk konstruksi interior ringan dan pembuatan triplek atau kayu lapis. Kayu ini juga cocok untuk papan partikel, papan serat, serta bahan baku bubur kertas. Selain itu, pohon ini berperan dalam reboisasi, menjadi tanaman hias, dan memiliki nilai budaya sebagai sarana upacara keagamaan Hindu.
Secara medis, Rejasa memiliki efek diuretik atau peluruh kencing, membantu mengatasi anyang-anyangan atau kondisi urine keluar dalam jumlah sedikit. Kulit kayunya digunakan untuk mengobati penyakit seperti sifilis, kencing nanah, serta radang atau infeksi pada kandung kemih. Ekstrak kulit batang dapat diminum sebagai tonik, ramuan untuk menguatkan tubuh, merangsang nafsu makan, sekaligus membantu meredakan demam. Akar pohon dipercaya dapat menurunkan demam dan mengatasi cacingan. Daun muda, diremukkan, digunakan sebagai obat luar dengan cara dioleskan pada dahi untuk meredakan sakit kepala.
Dengan semua manfaat tersebut, pohon Rejasa menjadi contoh tanaman yang memiliki nilai ganda: industri, lingkungan, dan kesehatan. Namun, kecepatan pertumbuhannya yang lambat menuntut upaya konservasi agar spesies ini tidak punah. Upaya reboisasi dan pelestarian habitat lokal menjadi kunci untuk menjaga keberadaan Rejasa di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
