PSSI Tegaskan Sanksi Tegas Terhadap Rasisme di EPA U-20

Nurul H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
PSSI Tegaskan Sanksi Tegas Terhadap Rasisme di EPA U-20

Gambar atau konten salah?

Erick Thohir, ketua umum PSSI, mengangkat isu dugaan rasisme di Elite Pro Academy (EPA) U-20. Ia menekankan pentingnya saling menghormati dan empati di antara semua pihak.

Insiden bermula ketika Fadly Alberto, pemain Bhayangkara U-20, dikabarkan dihina oleh pemain Dewa United selama pertandingan EPA U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada Minggu (19 April 2026).

Dalam pernyataannya, Erick Thohir mengecam segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasisme dalam sepakbola nasional. Ia menegaskan bahwa setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan klub.

Ia menambahkan bahwa di sepakbola usia muda tidak boleh hanya fokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis. Pembinaan yang benar harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, penghormatan kepada lawan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan serta keputusan wasit.

FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional,” kata Erick Thohir dalam pernyataannya, Rabu (22 April 2026).

Ia menekankan bahwa sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. “Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujarnya menambahkan.

Karena itu, Erick Thohir meminta I-League sebagai operator EPA dan juga kompetisi Liga 1 dan Liga 2, serta klub-klub peserta kompetisi tersebut, untuk terus menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain. Ia juga menyerukan pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi pemain muda menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik.

Dalam kesempatan ini, Erick Thohir menghargai usaha Bhayangkara FC dan Dewa United, dua klub asal para pemain yang terlibat, untuk mempertemukan dan mendamaikan kedua pemain, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis. “Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomor satukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” tutur Erick Thohir.

Dengan pernyataan ini, Erick Thohir menegaskan bahwa karakter dan sikap anti-rasisme harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pembinaan pemain muda. Semua pihak diharapkan menindaklanjuti ajakan tersebut agar sepakbola Indonesia tetap bersih dan adil.

Erick ThohirPSSIrasismeElite Pro Academysepakbola Indonesiafair playkarakter pemain muda

Komentar

Memuat komentar...