Puasa Media Sosial: Solusi Tenang Pikiran & Tidur Lebih Baik

Sigit W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Puasa Media Sosial: Solusi Tenang Pikiran & Tidur Lebih Baik

Gambar atau konten salah?

Setiap pagi, banyak orang langsung menyalakan ponsel dan membuka aplikasi media sosial sebelum memulai hari. Begitu pula sebelum tidur, layar tetap menyala, menunggu scroll tanpa henti. Aktivitas sederhana ini tampak biasa, namun secara perlahan membuat pikiran sulit benar-benar tenang.

Notifikasi terus muncul, video berputar tanpa henti, dan dorongan untuk mengikuti tren membuat orang sulit melepaskan ponsel. Bagi sebagian, media sosial menjadi hal pertama yang dilihat saat bangun dan terakhir sebelum mata tertutup. Kebiasaan ini menimbulkan rasa lelah yang tak disadari, pikiran penuh, fokus menurun, dan emosi lebih mudah terganggu.

Menurut jurnal Digital Detox: Dampak Positif Puasa Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial dan Gen Z yang dipublikasikan di AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional, kehidupan digital menempatkan banyak orang dalam tekanan untuk selalu hadir dan aktif di dunia maya.

“Paparan terhadap konten yang terus mengalir dan tuntutan untuk selalu aktif menciptakan kondisi mental yang rentan terhadap stres, terutama ketika interaksi digital tersebut disertai dengan harapan untuk tetap relevan dan diperhatikan oleh lingkungan daring,” tulis jurnal tersebut.

Tekanan ini tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, kebiasaan melihat kehidupan orang lain di media sosial membuat orang mulai membandingkan diri mereka sendiri. “Ketika seseorang terus-menerus membandingkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidupnya dengan yang dilihat di media sosial, maka muncul perasaan tidak berdaya, kecewa, bahkan rasa malu atas kehidupan yang mereka jalani,” lanjut jurnal.

Arus informasi yang terus masuk juga membuat otak tidak memiliki waktu jeda. Notifikasi, pesan, video pendek, dan berbagai informasi baru muncul hampir tanpa henti sepanjang hari. “Keterpaparan yang terus-menerus terhadap notifikasi, informasi baru, dan ekspektasi sosial secara daring membuat individu sulit untuk beristirahat secara mental. Otak dipaksa untuk terus aktif, menanggapi stimulus digital yang datang tanpa henti,” kata peneliti.

Akibatnya, banyak orang tetap merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat. Bahkan saat waktu istirahat, tangan sering kali refleks kembali membuka media sosial. Kebiasaan ini memaksa otak untuk tetap “on” sepanjang waktu.

Untuk mengatasi hal ini, beberapa orang mulai mencoba digital detox atau puasa media sosial. Cara-cara yang diambil beragam: membatasi waktu layar, mematikan notifikasi, atau sengaja tidak membuka aplikasi media sosial dalam jangka waktu tertentu.

Awalnya, banyak yang merasa gelisah dan takut tertinggal informasi. Namun setelah terbiasa, banyak yang melaporkan pikiran menjadi lebih tenang. “Tanpa adanya dorongan untuk terus memeriksa notifikasi, memperbarui status, atau membandingkan diri dengan orang lain secara daring, individu mulai memiliki waktu dan ruang untuk menjalani hari-hari dengan lebih terarah dan penuh kesadaran,” kata peneliti.

Selain itu, kualitas tidur juga disebut ikut membaik ketika penggunaan media sosial dikurangi, terutama pada malam hari. “Ketika akses terhadap media sosial dikurangi, waktu menjelang tidur tidak lagi dipenuhi dengan aktivitas menggulir layar atau memikirkan konten yang dikonsumsi secara intensif,” peneliti menambahkan.

Tak sedikit pula yang mulai kembali menikmati aktivitas sederhana yang sebelumnya jarang dilakukan karena terlalu lama menatap layar ponsel. Mulai dari membaca buku, berjalan santai, hingga berbincang langsung dengan keluarga atau teman.

“Banyak yang mulai menghargai kembali momen kebersamaan tanpa interupsi dari dunia maya, seperti berbincang di meja makan, berjalan bersama, atau hanya menikmati keheningan dalam kebersamaan,” kata peneliti.

Digital detox tidak berarti harus sepenuhnya meninggalkan media sosial. Namun, memberi jeda dan membatasi penggunaan dianggap sebagai cara agar pikiran tidak terus-menerus dipenuhi aktivitas digital setiap hari.

Dengan memahami dampak penggunaan media sosial yang berlebihan, banyak orang kini mencoba langkah sederhana untuk memberi ruang bagi pikiran dan tubuh. Melalui puasa media sosial, mereka menemukan keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata, serta merasakan perbaikan dalam konsentrasi, tidur, dan hubungan sosial.

media sosialdigital detoxkesehatan mentalstrestidurkonsentrasikebersamaan

Komentar

Memuat komentar...