Pura Rambut Siwi di Jembrana Terancam Akibat Abrasi Pesisir
Gambar atau konten salah?
Pura Rambut Siwi di Jembrana semakin terancam akibat abrasi pesisir yang semakin parah. Ombak gempuran menekan struktur pura, menimbulkan kerusakan serius.
Area Yehembang Kangin, di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, menjadi titik fokus abrasi. Kondisi ini menambah keprihatinan masyarakat setempat.
Gempuran ombak merusak Pura Tirta Rambut Siwi. Bangunan-bangunan suci hancur, hampir runtuh, menandakan kerusakan yang tidak dapat diabaikan.
Tempat abrasi terparah berada tepat di bawah Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi. Tembok penyengker dan Kori Pura Tirta telah hancur tersapu ombak pantai.
Bale Pesandegan di dalam pura juga sudah jebol, posisinya nyaris ambruk. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi para pemedek yang datang bersembahyang.
"Abrasi sudah sangat parah, banyak bagian dari Pura Tirta sudah hancur. Ini terjadi sejak lama, harus segera mendapat penanganan biar tidak tambah parah," kata Juru Sapuh Pura Tirta, Mangku Widi saat dikonfirmasi, 20 Mei 2026.
Mangku Widi menegaskan bahwa tanpa tindakan dalam waktu dekat, keberadaan Pura Tirta benar-benar terancam musnah. Ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap ancaman yang kian nyata ini.
"Saya dengar sih pemerintah kabupaten sudah mengusulkan penanganan abrasi ke pemerintah pusat. Mudah-mudahanlah segera bisa terealisasi," jelasnya.
Perbekel Yehembang Kangin, Gede Suardika, membenarkan parahnya kondisi abrasi. Ia dan pengempon pura mengaku sudah melaporkan situasi ini ke Pemerintah Daerah (Pemda) Jembrana dan mengajukan permohonan penanganan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.
Kondisi kerusakan dan faktor penyebabnya sudah skala besar, sehingga penanganan yang efektif harus sesuai secara teknis. Jadi ini kewenangannya ada di BWS," ujar Suardika.
Menurut Suardika, tim dari BWS Bali Penida sebenarnya sudah sempat turun ke lokasi untuk melakukan survei. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan atau penanganan fisik yang dilakukan di lapangan.
Sebelumnya, upaya darurat sempat dilakukan secara bergotong royong oleh pihak kecamatan, TNI/Polri, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat. Mereka bahu-membahu menahan laju abrasi dengan menggunakan tanggul darurat.
"Kami sempat gotong royong bersama. Kami tambal (pesisir) dengan pasir yang ditaruh dalam kampil (karung). Namun, karena tingkat kerusakan dan faktor penyebabnya skala berat, maka giat tersebut tidak efektif," imbuhnya.
Situasi ini menuntut respons cepat dari pemerintah daerah dan pusat. Tanpa intervensi, struktur pura dan lingkungan sekitarnya berisiko hilang selamanya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Seine Dibuka untuk Berenang di Tengah Gelombang Panas Paris
Rachmat Gobel Wafat, Sempat Posting 10 Wisata Gorontalo
Bandara Trump Resmi Ganti Nama, Proses Transisi Bertahap
Trans Studio Cibubur Rayakan 7 Tahun dengan Promo Tiket
LA Metro Uji Coba Transportasi Umum Lewat Piala Dunia 2026
28th Sky Beach Club Hadirkan Pantai Atap di Surabaya
Berita Terbaru
Yamal Pemain Terbaik, Spanyol ke Semifinal
PU Resmikan Lima Bendungan, Target Tambah Satu Juta Ton Beras
Pemuda Bandung Tewas Diseret Buaya Saat Perbaiki Perahu
Ronaldo Kenang Euro 2016 Usai Portugal Tersingkir
Harga Emas Antam Naik Rp 5.000 per Gram, Buyback Tembus Rp 2,415 Juta
Kamitetep Tak Gigit, Kenapa Gatal?
Resep Acar Kuning Timun Wortel Tanpa Santan
Ragunan, Pilihan Akhir Liburan Sekolah dengan Tiket Rp4.000
