Ramadan di Skotlandia: Tantangan dan Dukungan untuk Mahasiswa Muslim
Gambar atau konten salah?
Jakarta - Terbang lebih dari 18.000 km dari Indonesia menuju Britania Raya mengubah suasana Ramadan bagi diaspora. Hal ini dirasakan oleh Irawati Liana, seorang mahasiswa S2 di University of Edinburgh, Skotlandia. Ramadan 2026 menjadi pengalaman pertamanya menjalani puasa di Skotlandia. Ira, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa ia harus beradaptasi dengan berbagai hal, mulai dari cuaca, makanan, hingga durasi puasa.
Ira menjelaskan bahwa cuaca di sana masih dalam musim dingin, dengan suhu terendah mencapai 0 derajat Celsius dan suhu tertinggi sekitar 11 derajat Celsius. Ia menyatakan, "Jadi harus beradaptasi dengan cuaca yang bisa membuat mudah terserang flu. Tapi Alhamdulillah, saya belum pernah flu."
Menemukan makanan halal menjadi salah satu tantangan. Di negara dengan mayoritas penduduk yang tidak beragama, kebanyakan makanan yang tersedia adalah nonhalal. "Untuk makanan, saya agak kesulitan karena di sini banyak makanan roti dan banyak tempat yang menjual nonhalal. Jadi harus pilih-pilih," jelasnya.
Demi menghindari kesulitan tersebut, Ira lebih sering memasak di rumah dan membeli bahan makanan di toko-toko yang menjual produk halal, terutama daging. Durasi puasa di Skotlandia juga bervariasi, berbeda dengan di Indonesia yang biasanya berkisar 13-14 jam. Selama musim dingin, durasi puasa bisa antara 11 hingga 14 jam. "Setiap hari, saya harus cek jadwal azan secara digital," tambahnya.
Ira mengungkapkan, "Durasi puasa tidak konsisten. Dari awal Ramadan, durasi puasa semakin panjang. Dari Subuh pukul 05.45 sampai Magrib pukul 16.30, kini sudah berubah menjadi Subuh pukul 04.30 dan Magrib pukul 18.12. Sampai akhir Ramadan, kami akan puasa hingga jam 7 malam."
Walaupun tantangan ada, Ira merasa puasa pertamanya di UK tidak terlalu berat. Aktivitas yang ia lakukan tidak membuatnya cepat haus. "Yang paling membedakan Ramadan di Indonesia dan Skotlandia adalah suasananya. Di sini, banyak orang yang belum tahu tentang Ramadan," katanya.
Meski tidak ada ngabuburit, Ira tetap dapat menikmati Ramadan dengan berkumpul bersama diaspora Indonesia lainnya di Edinburgh untuk berbagi takjil gratis. "Komunitas muslim Indonesia di sini sering mengadakan bagi-bagi takjil untuk mahasiswa. Kami harus RSVP untuk mendapatkan makanannya," ujarnya.
Selain itu, buka puasa juga dijadwalkan oleh PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan komunitas muslim sebagai acara resmi. "Kadang, saya juga mengadakan buka puasa bersama teman dekat," tambahnya.
Ira tidak mengalami kesulitan menemukan masjid di Edinburgh. Dari tempat tinggalnya, terdapat Central Mosque yang dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 10 menit. Ia merasa aman selama Ramadan karena kampusnya memberikan dukungan kepada mahasiswa muslim. "Kampus sangat memperhatikan festival dari berbagai komunitas etnis dan agama. Selalu ada pengumuman untuk memberikan informasi terkait acara, termasuk Ramadan," jelas Ira.
Kampusnya bahkan memberikan kesempatan untuk menyesuaikan jadwal ujian bagi mahasiswa yang berpuasa. "Ada imbauan untuk mahasiswa yang merayakan Ramadan agar bisa konsultasi untuk menyesuaikan jadwal, terutama deadline ujian. Dosen juga memperhatikan, kadang mengingatkan agar tidak makan atau minum di kelas jika ada mahasiswa muslim," tuturnya.
Pengalaman Ira selama Ramadan di Skotlandia menggambarkan bagaimana diaspora beradaptasi dengan lingkungan baru dan tetap menjaga tradisi meski jauh dari rumah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar