Red Koki Tegaskan Sertifikat Chef, Menyulut Kontroversi
Gambar atau konten salah?
Sate kambing menjadi pilihan utama banyak orang di Jakarta ketika mencari makanan siang. Rasa daging kambing yang empuk, bumbu khas, dan aroma yang menggoda membuatnya tetap populer di kalangan pecinta kuliner.
Berbagai gerai legendaris masih menjaga cita rasa asli. Sate Madura Cak Juhari di kawasan Taman Mini, Sate Tegal Lumayan yang terkenal dengan bumbu Tegal, dan Sate Kambing H. Giyo di Jalan Pangeran. Setiap tempat menawarkan resep berbeda—beberapa lebih mirip Tegal, sementara yang lain lebih ke ala Madura. Harga per porsi berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000-an, sehingga cocok untuk semua kalangan.
Di sisi lain, salt bread tetap menjadi favorit bagi pecinta roti. Roti ini memiliki kulit renyah, rasa buttery, dan sedikit asin yang membuatnya nikmat. Di Bekasi, kafe dan bakery seperti Bear and Butter, Namacakes, dan Mon Bakehouse menawarkan beragam varian salt bread. Pengunjung dapat mencoba rasa klasik maupun inovasi baru yang sering berubah setiap minggu.
Kontroversi muncul ketika seorang content creator bernama Red Koki mengumumkan bahwa ia memiliki sertifikat Executive Chef dari BNSP, lembaga yang diakui di ASEAN. Pernyataan ini diposting di Threads, dan segera menarik perhatian publik. Chef Arnold Poernomo menyindir dengan kalimat: “Sungkem, salim, hormat.”
Menanggapi komentar tersebut, Henny Maria, yang dikenal sebagai Red Koki, mengangkat bicara dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Ia menyatakan bahwa ia memang bersertifikat dan merasa bangga dengan pencapaiannya, namun menghargai kritik yang datang.
Berita ini menjadi salah satu topik hangat pada 12 Mei 2026, bersama dua cerita lain yang menarik perhatian pembaca. Pertama, rekomendasi sate kambing di Jakarta yang masih mempertahankan kualitasnya. Kedua, salt bread enak di Bekasi yang terus menjadi incaran. Ketiga, Red Koki yang menegaskan sertifikasinya sebagai Executive Chef.
Ketiga kisah ini menyoroti bagaimana makanan tradisional dan inovasi kuliner tetap relevan di mata masyarakat, sekaligus menampilkan bagaimana kredensial profesional dapat memicu perdebatan publik. Meskipun kontroversi, setiap cerita memberi ruang bagi diskusi tentang standar, keaslian, dan apresiasi terhadap kuliner Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rekor Dunia: Andre Ortolf Minum 1 Kg Madu dalam 1 Menit
Indomie Goreng Cabe Ijo Kembali, Jumbo, dan Jangkau Nasional
Tongseng Battembat Resmi Jadi Warisan Budaya Jawa Barat
Ayam Bersih Berkah Juara di Tegal Parang, Jakarta Selatan
Chef Giorgio Hadir di THE TABLE by JRE, Trans Resort Bali
Chef Arnold Masukan Program MBG dan Rekomendasi Makan Cikini
Berita Terbaru
Medan: Kartu AK1 Bisa Dapatkan Online lewat Siduta
Bajrakitiyabha Mahidol, Thailand, Meninggal 12 Juni 2026
Polres Gresik Siapkan Keamanan Hari Pengesahan PSHT
Bupati Subandi dan Wali Tanam Ribuan Pohon di Taman Flyover
Kebakaran Bukit Silvia: Puntung Rokok Sisa Memicu Api
Innova Reborn Tetap Unggul, Menjadi Pilihan Utama di Pasar
Hwang In‑beom: Scor dan Assist Pertama Piala Dunia 2026, Pemain Tahu Poin
Shopee FLEXI Buka Akses UMKM Export Internasional Tanpa Biaya
