Ressi Monica Selamatkan Anak PAUD Tergelincir di Wisata Air

Lia N. · 3 min baca · 2 hari lalu · 16 dibaca
Bisik.id
Ressi Monica Selamatkan Anak PAUD Tergelincir di Wisata Air

Gambar atau konten salah?

Ressi Monica, seorang wanita berusia 35 tahun, menjadi sorotan setelah menolong seorang bocah PAUD yang hampir tenggelam di sebuah area wisata. Aksi heroiknya, yang terjadi pada 16 Juni 2026, segera menjadi viral di media sosial.

Ressi, yang memiliki latar belakang pendidikan keperawatan, mengingat kembali momen ketika ia dan suaminya tiba di tempat wisata sekitar pukul 10.00 WIB. Saat bersantai, ia sedang menyiapkan pakaian ganti untuk mendampingi anak-anaknya yang hendak berenang. “Tidak lama, suami datang setengah lari dan menginfokan ada anak kecil tenggelam. Suami meminta saya untuk segera memberikan pertolongan,” ujar Ressi pada Selasa.

Tanpa menunda, Ressi berlari menuju kerumunan. Pemandangan pertama yang dilihatnya cukup mengejutkan: tubuh lemas sang bocah diangkat oleh seorang pria dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, sebuah kekeliruan penanganan yang sering terjadi di masyarakat. Ressi langsung mengambil alih situasi. Ia menginstruksikan agar tubuh bocah malang itu segera dibaringkan di lantai yang datar.

Setelah memeriksa kondisi fisik korban, Ressi sempat merasakan jantungnya berdesir kencang. Ia menggambarkan situasi genting: “Kondisi anak tersebut sudah tidak ada respons, lemah lunglai, nadi lemah hampir tidak teraba, akral (ujung jari) dingin, dan bibir sianosis atau biru keunguan.”

Melihat tanda-tanda vital yang nyaris habis, Ressi langsung melakukan tindakan anamnesa cepat dan memulai siklus CPR. Sendirian, di tengah kepanikan pengunjung, jemari Ressi menekan dada sang bocah dengan ritme yang konstan. Proses krusial itu berlangsung selama empat hingga lima menit, yang terasa begitu lama bagi semua yang menyaksikannya. Ressi melakukan total empat hingga lima siklus kompresi dada dengan kecepatan luar biasa, sekitar 100 hingga 120 tekanan per menit.

Secara teori, CPR harus bergantian setiap dua menit untuk mencegah kelelahan, karena kompresi dada yang efektif membutuhkan tenaga dan ritme yang kuat. “Jika kelelahan, kedalaman dan kecepatan kompresi pasti menurun,” jelas Ressi. Beban berat di pundaknya sempat membuat Ressi berteriak histeris di tengah kepulan kepanikan massa. “Kemarin sebetulnya saya sudah kelelahan dan meneriakkan, ‘apakah ada nakes (tenaga kesehatan) lainnya di sini?’. Namun sampai CPR yang saya lakukan berhasil, baru ada seseorang yang mengaku perawat datang,” tuturnya.

Di tengah ketegangan, beberapa pengunjung sempat mendesak agar bocah tersebut langsung digendong dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, naluri keperawatan Ressi menolak keras. Memindahkan pasien dalam kondisi jantung dan napas berhenti tanpa penanganan awal justru bisa berakibat fatal. Keputusan Ressi bertahan terbukti tepat. Di menit kelima, keajaiban itu datang. Dada kecil sang bocah mulai bergerak, disusul dengan respons tubuh yang dinanti-nanti.

“Alhamdulillah korban sudah menunjukkan ada refleks batuk, keluar cairan banyak sekali dari hidung dan mulut, disertai ada refleks anggota tubuh lainnya. Setelah itu, baru saya mengizinkan korban untuk dievakuasi ke RS,” ucapnya dengan nada lega. Selama proses penyelamatan, sang suami juga turut membantu menenangkan massa dan meminta pengunjung tidak berkerumun agar pasokan oksigen di sekitar korban tetap terjaga.

Ressi menyampaikan bahwa insiden ini menegaskan pentingnya pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat umum. “Sangat penting pelatihan CPR diberikan pada masyarakat umum. Karena sedikit pertolongan dengan teknik dan waktu yang tepat, bisa menyelamatkan banyak nyawa,” kata Ressi. Ia juga mengkritik pengelola destinasi wisata air agar mengevaluasi ketersediaan tim medis resmi di lapangan. “Untuk orang tua, sebaiknya jangan pernah lepas pengawasan saat anak bermain di arena air. Dan untuk pengelola wisata, sebaiknya seluruh staf karyawan diberikan pelatihan Bantuan Hidup Dasar agar siap jika ada kejadian darurat,” pungkasnya.

Keberhasilan Ressi menolong bocah tersebut tidak hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga menyoroti kebutuhan akan pelatihan dasar pertolongan pertama di kalangan masyarakat. Dengan pengetahuan dan kesiapan yang tepat, tindakan sederhana seperti CPR dapat menjadi penyelamat hidup.

Ressi MonicaCPRPelatihan BHDKeperawatanWisata AirPenyelamatanTindak darurat

Komentar

Memuat komentar...