Rika Fitri, Penari Ular, Menjaga 17 Piton di Desa Grobogan
Gambar atau konten salah?
Rika Fitri, seorang warga Desa Grobogan di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, berusia 40 tahun, kini memelihara 17 ekor piton. Untuk menutupi biaya hobi ini, ia sering tampil sebagai penari ular di berbagai acara.
Ketertarikan Rika pada reptil sudah ada sejak masa kecil. Ia baru mulai serius memelihara ular pada tahun 2020, ketika membeli Piton Golden Child berwarna hitam. Sejak saat itu, jumlah peliharaannya bertambah, mencapai belasan ekor dengan berbagai jenis, mulai dari sanca kembang, tiger, ivory, hingga albino.
“Awalnya itu penasaran, terus suka. Lalu dapat rezeki terus beli. Awalnya cuman punya satu, terus dikembangkan. Sekarang punya 17 ekor ular piton,” kata Rika kepada wartawan di rumahnya pada Senin, 30 Maret 2026.
Memelihara ular berukuran besar memerlukan perawatan ekstra. Istri Sugeng Waluyo, 42 tahun, rutin membersihkan kandang setiap hari dan memandikan ular-ularnya setiap tiga hari sekali. Semua ular ditempatkan dalam kandang khusus di dalam rumah, agar tidak mengganggu aktivitas keluarga.
Pengeluaran makanan juga signifikan. Dalam satu minggu, 17 ular menghabiskan sekitar 15 hingga 20 ekor ayam tiren yang dibeli dari peternak setempat. Biaya pakan diperkirakan mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu setiap bulannya.
“Umpanya ngasih makannya bareng ya bisa sampai 20 ekor. Karena kalau ular yang 5 meter bisa sampai 2 ekor ayam,” jelas Rika.
Untuk menutupi biaya perawatan, Rika mengandalkan keahlian sebagai penari ular. Ia memulai profesi ini sejak lulus SMA pada tahun 2005, meski pada awalnya harus menyewa ular milik orang lain. Kini, dengan piton miliknya, ia sering menerima pesanan tampil di acara karnaval desa hingga hiburan sound horeg.
Dalam satu bulan, Rika dapat 2 hingga 3 panggilan tampil dengan tarif Rp 500 ribu untuk durasi sekitar 30 menit. “Kalau waktu bulan Agustus lebih ramai lagi. Setiap hari bisa 3 tempat job tari ular,” ungkapnya.
Pendapatan dari pertunjukan tersebut ia gunakan kembali untuk kebutuhan ular. “Iya buat perawatan ular. Kadang juga buat perawatan perlengkapan tari, seperti baju dan mahkota juga,” tambah Rika.
Awalnya, perjalanan memelihara piton sempat mendapat restu terbatas dari keluarga. Namun, kegigihannya meyakinkan suami dan anak-anak, sehingga kini keluarga besar sudah akrab dengan hewan melata tersebut. “Alhamdulillah sekarang keluarga sudah biasa. Kalau dulu ya keluarga ngomel-ngomel,” pungkasnya.
Rika Fitri menunjukkan bahwa hobi yang tampak unik dapat dipadukan dengan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Dengan disiplin perawatan dan kreativitas dalam menari, ia berhasil menjaga keseimbangan antara kebutuhan finansial dan kecintaannya pada piton.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Berita Terbaru
Ronaldo Usia 41 Tahun Siap Menjuarai Piala Dunia 2026
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
PHK Januari-April 2026: Jawa Barat Terbanyak, 5.044 Orang
Serenada Enchanting Valley: Konser Musik di Puncak Bogor
FESyar Sumatera 2026: Festival Ekonomi Syariah Palembang
Di Maria Pensiun, Argentina Hadapi Ancaman Spanyol, Prancis
