Rumah Baca Anjangsana: Dari Kosong Menjadi Ruang Literasi Bogor
Gambar atau konten salah?
Di pagi yang tenang di Bogor, saya duduk di ruang depan Rumah Baca Anjangsana dan bertanya pada diri sendiri, "Kok berani buka rumah baca?" Pertanyaan itu datang begitu saja, seolah‑olah ingin membuka cerita panjang tentang keberanian, keterbatasan, dan keyakinan yang tidak selalu berkaitan dengan keuntungan.
Ryan Rinaldy, pemilik rumah baca ini, adalah mantan jurnalis. Saat saya menanyakan pertanyaan itu, ia langsung tertawa. Ia tidak langsung memberikan jawaban dengan konsep bisnis besar. Sebaliknya, ia memulai cerita dari hal yang hampir sepele.
Ryan menjelaskan bahwa semua bermula dari keinginannya dan istri, Nadia Pratiwi, yang ingin memberi akses membaca bagi warga sekitar. Rumah ini adalah rumah orang tuanya yang sudah lima tahun tidak ditempati. Tanpa beban sewa, ia merasa punya ruang untuk mencoba. "Idenya sesimpel itu," ujar Ryan, menekankan bahwa tidak ada strategi bisnis rumit atau perhitungan pasar berlapis. Yang ada hanyalah keputusan untuk memanfaatkan ruang kosong menjadi ruang hidup bagi buku dan pembacanya.
Biaya terbesar, menurutnya, datang dari renovasi awal. Setelah itu, operasionalnya mengikuti ritme pengunjung yang datang silih berganti. Saya melangkah ke bagian belakang rumah. Ruang itu terbuka cukup luas, sekitar 80 meter persegi. Tidak ada kursi, tidak ada meja. Hanya hamparan rumput hijau yang terawat, membentang tanpa sekat.
Di sekelilingnya, tanaman-tanaman tinggi berdiri rapat, seperti pagar alami yang membungkus ruang ini dari dunia luar. Tidak kaku seperti tembok, tapi cukup untuk memberi rasa privat. Melangkah ke area ini terasa seperti jeda dari hiruk‑pikuk kota. Sunyi. Dan hanya terdengar deru air Sungai Ciliwung tepat di belakang halaman. Namun dari suasana itulah ruang baca ini menjadi utuh.
Mata bisa lepas memandang tanpa terganggu benda‑benda. Angin bergerak lebih bebas, menyapu permukaan rumput, sesekali menggoyangkan daun‑daun tinggi di pinggir halaman. Pengalaman membaca terasa bergeser. Bukan lagi sekadar aktivitas duduk dengan buku, tapi seperti berada di ruang yang memberi jeda dari rutinitas mekanik menjadi rekreatif.
Ryan menyebut, banyak pengunjung justru mencari suasana ini. "Banyak yang cerita mereka merasakan ketenangan dengan membaca sambil mendengarkan aliran sungai," katanya. Kesan homey memang terasa kuat. Tidak ada jarak antara pemilik dan pengunjung. Tidak ada formalitas seperti di perpustakaan umum. Yang ada justru sensasi bertamu ke rumah teman lama. Ryan sendiri menyebut itulah yang ingin ia bangun, sebuah ruang yang membuat orang merasa pulang.
Rumah Baca Anjangsana memiliki koleksi sekitar 1.500 judul. Mulai dari novel, buku nonfiksi, sejarah, komik, hingga zine. Awalnya berasal dari koleksi pribadi keluarga, lalu perlahan bertambah dari donasi. Bahkan, banyak pengunjung yang datang membawa buku untuk disumbangkan. Namun, tidak semua buku diterima begitu saja. Ada proses kurasi. Ryan menyebut keterbatasan rak menjadi alasan pertama. Alasan kedua, relevansi isi. Buku yang tidak lolos seleksi biasanya tidak dibuang, melainkan diletakkan di area bebas untuk diambil siapa saja.
Di tengah pergeseran ke dunia digital, keputusan membuka rumah baca fisik memang terasa berlawanan arah. Tapi Ryan justru melihat tanda lain. Ia merasa ada kecenderungan orang kembali mencari benda fisik seperti buku, kaset, CD. Ia menyebut fenomena itu sebagai alasan tambahan yang menguatkan langkahnya.
Saya melihat sendiri bagaimana beberapa pengunjung tenggelam dalam bacaannya. Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada distraksi layar. Hanya halaman demi halaman yang dibalik perlahan. Salah satu pengunjung, Aditiya Safitri, bercerita ia pertama kali tahu tempat ini dari media sosial. Tapi yang membuatnya kembali bukan sekadar tren, melainkan pengalaman. Ia merasa koleksi buku di sini menarik, termasuk novel terbaru dan komik. "Matca-nya enak juga... tempatnya enak, bukunya lengkap," kata perempuan berkaca mata ini.
Aditiya juga menyebut suasananya seperti rumah nenek. Ada camilan sederhana, suara air, dan pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk. Pengunjung lain, Dey, yang datang dari Bandung, punya kesan serupa. Ia menilai konsep rumah baca masih jarang di Bogor. Menurutnya, tempat ini bukan sekadar kafe dengan rak buku, melainkan ruang baca yang benar-benar hidup. Ia menyebut suasana rumahan dan suara aliran sungai sebagai daya tarik utama.
Sementara Melani menekankan satu hal yang sering terlupakan: kebutuhan akan ruang tenang. Melani merasa membaca secara offline memberi pengalaman yang berbeda. "Vibenya kerasa," katanya, tentang sensasi membaca tanpa gangguan digital.
Rumah baca ini tidak sepenuhnya mengejar keuntungan. Ryan menyebut pemasukan yang ada masih diputar untuk operasional. Ia tidak menampik bahwa ini belum menjadi bisnis yang menghasilkan profit besar. Tapi justru di situlah letak keberaniannya, bertahan pada sesuatu yang tidak selalu menjanjikan materi, tapi memberi nilai lain yang sulit diukur.
Saat saya menutup buku yang tadi sempat saya baca, suara sungai masih terdengar. Tidak berubah sejak pertama saya datang. Di tempat ini, waktu terasa berjalan sedikit lebih pelan. Dan mungkin, di situlah jawaban paling jujur dari pertanyaan awal saya.
Rumah Baca Anjangsana menjadi contoh sederhana bagaimana ruang yang sebelumnya tidak terpakai dapat diubah menjadi tempat berkumpul, belajar, dan bersantai. Ia menampilkan bahwa keberanian untuk membuka ruang publik tidak selalu memerlukan modal besar atau rencana bisnis yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah niat, ruang, dan kepercayaan bahwa orang akan datang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
624 Pendaftar Sekolah Maung Tampil Meski Sosialisasi Singkat
Sukabumi Bentuk Pokja BSAN, Fokus Kurangi Kekerasan Sekolah
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
