Rupiah Rp17.400/Dolar, Purbaya Tegaskan BI Jawab Moneter

Teguh A. · 2 min baca · 29 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Rupiah Rp17.400/Dolar, Purbaya Tegaskan BI Jawab Moneter

Gambar atau konten salah?

Selasa, 05 Mei 2024, rupiah menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa muncul di konferensi pers untuk menjawab pertanyaan seputar nilai tukar tersebut.

Beberapa pihak mengaitkan pelemahan mata uang dengan kondisi fiskal negara. Namun, Purbaya menegaskan bahwa pertanyaan seputar moneter seharusnya ditujukan kepada Bank Indonesia, bukan kepada kementerian keuangan.

“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah, maka rupiahnya lemah‑lemah dan lain‑lain. Kalau rupiah, nantinya BI aja yang jawab. Jangan tanya saya. Mereka yang berhak jawab,” ujar Purbaya di ruang pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

Di sisi lain, ia menyoroti ketahanan energi Indonesia. “Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat. Itu nomor dua tuh. Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara‑negara lain, bahkan di atas Amerika, di atas Cina, di atas Australia,” tambahnya.

Menjelaskan kondisi fiskal, Purbaya menyatakan bahwa defisit APBN masih terjaga. Berdasarkan data, defisit tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Ia mengingatkan agar angka tersebut tidak disederhanakan dengan cara mengalikannya empat kali untuk memproyeksikan setahun penuh. “Surplus dan defist, mencapai Rp 240,1, itu defisti, itu 0,93 persen dari PDB. Tapi nanti jangan dikali empat, karena setiap tahun akan beda belanjanya dan siklus income‑nya beda, siklus belanjanya beda,” jelasnya.

“Yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3 persen sesuai dengan desain APBN,” tambahnya, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga batas defisit.

Hingga Maret 2026, APBN dianggap cukup ekspansif. Pendapatan negara tumbuh sekitar 10 persen menjadi Rp 574,9 triliun secara tahunan. Penerimaan perpajakan meningkat 14 persen menjadi Rp 462 triliun, sementara penerimaan pajak saja mencapai Rp 394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen.

Secara keseluruhan, Menteri Keuangan menegaskan bahwa nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal, sementara kebijakan fiskal tetap berada di bawah kendali pemerintah. Fokus pada ketahanan energi dan pengelolaan defisit di bawah 3 persen menjadi landasan bagi stabilitas ekonomi nasional.

RupiahNilai tukarDefisit APBNBank IndonesiaKetahanan energiPDBPurbaya Yudhi Sadewa

Komentar

Memuat komentar...