Rupiah Terpuruk, Dolar Menguat: Faktor Geopolitik dan Minyak

Kartika D. · 2 min baca · 16 hari lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terpuruk, Dolar Menguat: Faktor Geopolitik dan Minyak

Gambar atau konten salah?

Rupiah menurun hingga melewati Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat. Penurunan ini tidak semata-mata dipicu oleh faktor luar negeri, melainkan juga dipengaruhi oleh sentimen di dalam negeri.

Menurut pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan pada rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik ini mengganggu Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan global, dan menyebabkan harga minyak naik. Ia berkata, “Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan, indeks dolar yang juga mengalami penguatan, ini berdampak terhadap kebutuhan dolar yang cukup tinggi dari Indonesia karena Indonesia impor minyak mentah 1,5 juta barel per hari.”

Co-founder PasarDana dan praktisi pasar modal, Hans Kwee, menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi global, khususnya US Treasury, sudah berlebihan. Hal ini memaksa investor global memindahkan modal ke instrumen keuangan AS, sehingga dolar menguat. Ia mengungkapkan, “Yield US Treasury naiknya sudah berlebihan. Investor masuk ke obligasi AS sehingga dolar menguat. Itu yang menekan rupiah.”

Dari sisi domestik, harga minyak yang tinggi mengancam melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Konflik global yang belum mereda membuat investor asing khawatir dan mulai menarik modal dari pasar Indonesia.

Peristiwa lain yang memperparah situasi adalah pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Pada Sabtu, 16 Mei 2024, ia menanggapi pelemahan rupiah dengan santai, menyatakan tidak berdampak pada masyarakat desa. Ibrahim menilai komentar tersebut menjadi alasan bagi investor untuk membeli dolar. Ia mengatakan, “Ini menjadi simalakama. Pernyataan Presiden Prabowo dijadikan alasan oleh investor di pasar untuk membeli dolar, sehingga rupiah terus melemah secara signifikan.”

Menurut Ibrahim, Presiden belum memberikan arahan jelas tentang bagaimana menanggapi pelemahan rupiah. Ia menekankan bahwa pemerintah harus mengambil langkah konkret. “Seharusnya pemerintah memberikan solusi terkait kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi, rencana implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil, serta langkah konkret menghadapi krisis agar rupiah kembali menguat. Itu yang seharusnya dilakukan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan pernyataan presiden menciptakan tekanan besar pada rupiah. Investor asing yang khawatir dan pergerakan modal ke AS semakin memperparah situasi. Pemerintah perlu segera menyiapkan kebijakan yang menstabilkan nilai mata uang dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

RupiahHarga MinyakUS TreasuryPrabowoSelat HormuzImbal Hasil ObligasiInvestor Asing

Komentar

Memuat komentar...