S&P Dorong Konsolidasi BUMN Danantara, 300 Perusahaan
Gambar atau konten salah?
S&P Global menyoroti rencana Danantara, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara, untuk menurunkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tersebar. Pada saat ini, Danantara tengah mengkonsolidasikan 1.000 BUMN menjadi sekitar 300 perusahaan.
Melalui konsolidasi ini, S&P menilai portofolio BUMN akan menjadi lebih terbatas. Namun, langkah ini dianggap tepat untuk meningkatkan kepercayaan investor dan akses pendanaan ke BUMN.
“Seiring berjalannya waktu, BUMN yang lebih besar dan dominan di sektor masing-masing dapat muncul dan memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi pertumbuhan ekonomi negara,” tulis S&P dikutip dari laman resminya, 17 April 2026.
Menurut S&P, peran BUMN akan sulit digantikan, terutama bagi entitas yang beroperasi di industri-industri strategis. BUMN kecil yang memiliki fungsi tumpang tindih kemungkinan besar akan digabungkan atau direstrukturisasi.
Pengelolaan BUMN sebelumnya sudah pernah dilakukan pemerintah. Contohnya, BUMN kepelabuhanan digabung menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Sektor aviasi juga mengalami konsolidasi menjadi PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
“Kami percaya bahwa gabungan entitas-entitas di atas akan lebih penting bagi pemerintah dalam peran dan fungsinya. Sebelumnya, lanskap operasional lebih terfragmentasi, dengan empat BUMN pelabuhan dan dua BUMN bandara,” ungkap S&P.
Berikut tiga konsolidasi dan restrukturisasi yang sudah dilakukan Danantara:
- Perombakan direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
- Suntikan modal untuk restrukturisasi tiga BUMN: Garuda Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
- Konsep konsolidasi Subholding Pertamina dan rencana merger Garuda Indonesia dengan Pelita Air.
Inisiatif ini menandai langkah berani untuk menyederhanakan struktur BUMN, sekaligus menyiapkan landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih terfokus pada entitas besar yang memiliki kapasitas strategis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
