Sekolah Angkringan Ngerangan: Pelatihan Praktis & Manajemen Bisnis
Gambar atau konten salah?
Angkringan adalah warung makan sederhana yang biasanya berlokasi di trotoar atau di depan rumah warga. Di banyak kota, warung ini sering disebut wedangan atau hik. Namun, angkringan yang dijalankan oleh penjual asli dari Bayat, Klaten, tetap menjadi primadona. Tidak hanya karena warung ini memang berasal dari Bayat, tetapi juga karena para penjual wedangan asal Bayat dikenal mahir meracik minuman dengan rasa khas dan istimewa.
Para pedagang angkringan atau calon pedagang yang berasal dari daerah lain yang ingin meniru rasa khas Bayat memiliki kesempatan belajar. Desa Ngerangan, Bayat, yang menjadi asal muasal angkringan, membuka sekolah khusus bagi masyarakat yang ingin mengelola wedangan.
Jangan bayangkan sekolah angkringan di Desa Ngerangan seperti sekolah formal dengan gedung megah. Tidak pula seperti kampus dengan fasilitas lengkap. Yang ada hanyalah homestay sederhana dan joglo kantor desa sebagai pusat kegiatan. Meski sederhana, kampus angkringan Desa Ngerangan sudah meluluskan lima alumni penuh waktu dan ratusan siswa diklat dari berbagai daerah.
“Yang lulus mendapatkan sertifikat dari sini memang baru lima orang. Tapi lebih banyaknya kita diundang untuk pelatihan, ya kalau itu sudah ratusan orang,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumunar Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Suwarna, saat mengawali cerita.
Menurut Suwarna, sekolah angkringan muncul sekitar tahun 2019-2020 ketika pemerintah desa mulai mendeklarasikan Desa Ngerangan sebagai Desa Wisata Angkringan. Sekolah angkringan merupakan salah satu paket yang diselenggarakan. “Beberapa penggerak desa wisata melakukan pembahasan membuat program-program dan paket desa wisata. Salah satu paket andalan kita adalah sekolah angkringan ini,” jelas Suwarna.
Program sekolah angkringan tidak dibuat asal-asalan. Ia mengacu pada sejarah angkringan atau hik yang berakar di Desa Ngerangan sekitar tahun 1930-an. Maka, dibuatlah sekolah angkringan dengan dua paket. Paket pertama ringan, mulai hanya meracik teh, jahe, hingga nasi. Orang yang berkunjung lalu kita ajari cara menyajikan. Paket kedua lebih panjang, berupa Diklat sekolah angkringan yang dijalani peserta selama lima hari.
Peserta paket Diklat akan mendapatkan materi lengkap. Pada hari pertama, dijelaskan sejarah, seluk-beluk, sampai perkembangan bisnis angkringan. Hari kedua, peserta mempelajari teknik meracik minuman khas, terutama teh dan jahe. “Hari kedua peserta mempelajari racikan minuman teh, jahe, jeruk, kopi dan lainnya dari teori sampai praktik penyajian,” tambah Suwarna.
Hari ketiga berfokus pada teori dan praktik membuat dagangan angkringan. Kita gandeng ibu PKK untuk mengajari membuat nasi, sate, dan lainnya. Praktik langsung dilakukan dan hasilnya langsung dinikmati. “Di hari ketiga materinya teori dan praktik membuat dagangan angkringan, kita gandeng ibu PKK untuk mengajari membuat nasi, sate dan lainnya langsung praktik buat dan dinikmati,” lanjut Suwarna.
Hari keempat, peserta yang sudah bisa membuat minuman dan makanan langsung diminta praktik berjualan. Diajarkan cara menata dagangan sampai penyajian. “Di hari keempat, buat lagi minuman dan makanan lalu dijajakan langsung di gerobak untuk melayani pembeli, kita undang warga sekitar sebagai pembelinya. Kita ajari juga cara menaruh gelas, lodong gula, sendok dan lainnya,” kata Suwarna.
Hari kelima menambah materi pengenalan wisata lokal di wilayah Klaten. Peserta diajak piknik mengunjungi berbagai objek wisata. “Di hari kelima sesuai program dinas pariwisata ditambah pengenalan wisata kawasan, maksimal tiga lokasi karena terkait waktu yang cuma sehari. Ada yang ke rawa Jombor, kerajinan keramik Pagerjurang, Bukit Cinta, batik Desa Jarum sampai ada yang ingin melihat pembuatan ceret angkringan di Kecamatan Ceper,” rinci Suwarna.
Suwarna menyatakan biaya sekolah angkringan penuh waktu relatif murah. Biaya hanya Rp 4 juta sampai Rp 4,5 juta per orang. Biaya tersebut sudah termasuk pembelian alat angkringan. “Jatuhnya sekali paket Rp 4 juta, tapi sudah dapat alat. Rp 4 juta itu yang Rp 1 juta untuk akomodasi dan yang Rp 3 juta itu untuk peralatan. Begitu pulang diberi peralatan dan jika sudah punya tempat, peserta bisa langsung buka warung angkringan,” tambah Suwarna.
Dari lima alumni penuh waktu tersebut, ada empat warga Klaten dan satu warga Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang dibiayai dana desa. Di luar pelatihan lima hari itu, sekolah angkringan desa juga diundang untuk pelatihan di berbagai daerah. “Lebih banyaknya kita itu diundang untuk pelatihan singkat, karena biaya lebih murah, baik di Yogyakarta maupun kota lain. Ada juga tamu rombongan yang cuma ambil paket satu hari, terutama cara meracik tehnya saja karena biayanya lebih murah,” ucap Suwarna.
Materi manajemen juga menjadi bagian penting. Sekolah angkringan Desa Ngerangan tidak hanya memberikan teori dan praktik, tetapi juga materi manajemen bisnis angkringan. Pemateri manajemen, Mukhsin Dwi Nugroho, menjelaskan materi itu diberikan agar angkringan tidak sekadar pelarian tapi juga sebuah usaha yang layak. “Biar sesuatu itu lebih terorganisir, bagaimana sebuah usaha itu layak. Ya ada materi manajemen keuangan, manajemen risiko, sampai penyajian,” ungkap Mukhsin.
Hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti bagaimana mengatur keuangan agar tidak bercampur dengan uang lainnya, diberikan teorinya. Termasuk penyajian yang bagus dengan harapan konsumen ikut mempromosikannya. “Manajemen menyajikan itu penting, penampilan yang baik dan kebersihan itu penting. Sehingga konsumen bisa ikut memasarkan dari mulut ke mulut karena angkringan itu tempat nongkrong dan juga ruang publik yang bisa dikemas bentuk lain semacam kafe,” papar Mukhsin.
Selain itu, ada materi manajemen tentang mencari tempat. Tempat berjualan menjadi faktor penting, sehingga pemetaan risiko harus dipikirkan dari awal. “Ada juga materi manajemen bagaimana mencari tempat karena tempat berjualan itu menentukan sehingga pemetaan risiko harus dipikirkan dari awal. Sebab banyak yang gagal usaha itu karena tempat,” jelas Mukhsin.
Secara keseluruhan, sekolah angkringan Desa Ngerangan menawarkan kombinasi pelatihan praktis, teori, dan manajemen yang komprehensif. Dengan biaya yang terjangkau dan fasilitas sederhana, program ini menjadi peluang bagi banyak orang untuk memulai usaha warung wedangan. Selain itu, pelatihan ini juga memperkenalkan wisata lokal, menambah nilai tambah bagi desa dan daerah sekitarnya.
Program ini tidak hanya mengajarkan cara membuat minuman dan makanan, tetapi juga menanamkan prinsip bisnis yang sehat. Dengan pemahaman tentang keuangan, risiko, dan pemasaran, para peserta dapat menjalankan usaha angkringan dengan lebih terstruktur. Kegiatan ini juga membuka peluang bagi masyarakat desa untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, sekaligus memperkaya budaya kuliner tradisional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Kekurangan Sekolah di 5 Kecamatan Semarang: Tanah Belum Tersedia
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
