Selama Pekan Garam, Malaysia Konsumsi Garam Terlalu Tinggi

Tika M. · 2 min baca · 16 hari lalu · 41 dibaca
Bisik.id
Selama Pekan Garam, Malaysia Konsumsi Garam Terlalu Tinggi

Gambar atau konten salah?

Di Malaysia, banyak warga secara tidak sadar mengonsumsi garam melebihi batas harian yang disarankan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.

Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan Pekan Kesadaran Garam Sedunia yang diperingati pada 12 hingga 18 Mei 2024, sekaligus Hari Hipertensi Sedunia. Para ahli kesehatan menyoroti bahwa garam sering menjadi masalah pola makan yang terlewatkan oleh masyarakat, sementara perhatian lebih banyak terfokus pada konsumsi gula.

Menurut Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional 2024, sekitar tiga dari empat orang dewasa di Malaysia rutin mengonsumsi makanan tinggi garam. Rata‑rata harian mereka mencapai 7,3 gram garam, jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan kurang dari 5 gram atau sekitar satu sendok teh per hari.

Masalahnya, natrium tersembunyi dalam banyak makanan sehari‑hari yang tidak selalu terasa asin. Sumber utamanya berasal dari saus, kuah, sup, mi, makanan olahan, hingga makanan yang dibeli di luar rumah. Hal ini membuat warga sulit mengontrol asupan garam mereka.

Para ahli menilai mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang rentan. Pola makan di lingkungan universitas identik dengan makanan cepat saji yang murah dan praktis. Kebiasaan ini dikhawatirkan terus terbawa hingga dewasa. Akibatnya, sejumlah institusi pendidikan mulai mencoba menghadirkan pilihan makanan rendah garam lewat kerja sama dengan vendor makanan, kampanye nutrisi, dan reformulasi resep.

Tujuannya bukan mengubah budaya makan secara total, melainkan mendorong pilihan yang lebih sehat tanpa mengorbankan rasa dan harga. Kesadaran masyarakat terkait kandungan natrium masih rendah. Banyak orang tidak menyadari bahwa gorengan, mi instan, daging olahan, dan makanan siap saji mengandung garam tinggi.

“Tidak seperti gula, yang seringkali terlihat atau mudah dikaitkan dengan rasa manis, garam cenderung menyatu secara diam‑diam ke dalam kebiasaan makan sehari‑hari,”

Peneliti global kini juga mulai mengembangkan alternatif berupa garam rendah natrium yang sebagian kandungannya diganti kalium, tetapi tetap mempertahankan rasa serupa. Sejumlah bukti awal menunjukkan pengganti garam tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, bila dikombinasikan dengan strategi pengurangan garam lainnya.

Para ahli menegaskan mengurangi garam tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah sederhana seperti mengurangi bumbu, memilih makanan rendah natrium, atau mengurangi garam saat memasak sudah dapat membantu tubuh beradaptasi secara bertahap.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa walaupun perhatian publik lebih banyak pada gula, asupan garam berlebih tetap menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Upaya pengurangan garam melalui pendidikan, reformulasi produk, dan penggunaan garam rendah natrium dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat Malaysia.

Garam berlebih MalaysiaHipertensiPekan Kesadaran Garam SeduniaPenyakit kardiovaskularGaram rendah natriumPola makan mahasiswaReformulasi makanan

Komentar

Memuat komentar...