Selfie V Sign Mengancam Sidik Jari, Pakar Peringatkan

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Selfie V Sign Mengancam Sidik Jari, Pakar Peringatkan

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Asia, pose selfie dengan dua jari membentuk huruf V sudah menjadi kebiasaan. Namun, gaya sederhana ini menimbulkan risiko keamanan yang tidak disadari. Smartphone dengan kamera resolusi tinggi kini mampu menangkap detail‑detail kecil, termasuk garis‑garis sidik jari pada jari yang terlihat di foto.

Para pakar keamanan mengingatkan bahwa mencuri data sidik jari hanya dari sebuah foto selfie kini menjadi lebih mudah. Diskusi ini kembali viral di jejaring sosial China pekan ini, ketika para ahli menyatakan bahwa foto selfie yang memperlihatkan ujung jari secara langsung ke kamera dari jarak 1,5 meter (5 kaki) sudah cukup untuk merekam garis‑garis sidik jari.

Li Chang, pakar keuangan, memperingatkan bahwa dengan perangkat lunak edit foto dan kecerdasan buatan (AI), peretas dapat mempertajam struktur sidik jari yang tersembunyi di balik foto selfie tersebut. Pernyataan ini didukung oleh Jing Jiwu, profesor di University of Chinese Academy of Sciences, yang menegaskan bahwa meski faktor pencahayaan, blur akibat gerakan, dan titik fokus dapat menghambat proses ekstraksi, kehadiran foto beresolusi tinggi yang tajam secara signifikan mempermudah pencurian data biometrik.

Ancaman ini bukan hal baru. Jika peretas berhasil mengekstrak gambar sidik jari, mereka dapat menggunakannya untuk menipu pemindai biometrik pada ponsel, laptop, sistem pembayaran, atau akun online korban. Konsep pembobolan semacam ini sudah dikenal sejak tahun 2014, ketika peneliti biometrik terkemuka Jan Krissler berhasil merekonstruksi sidik jari Menteri Pertahanan Jerman hanya dengan foto‑foto tangan sang menteri yang beredar luas di ruang publik.

Di masa lalu, proses kloning sidik jari dianggap kurang praktis karena membutuhkan kondisi terkontrol dan teknik pemrosesan khusus. Namun, kamera ponsel modern yang kini dilengkapi fitur komputasi fotografi canggih justru menurunkan “syarat” peretasan tersebut. Sebagai bukti, pada tahun 2021 para peneliti di Kraken Security Labs mendemonstrasikan metode pembobolan pemindai sidik jari. Mereka hanya membutuhkan sebuah foto sidik jari, aplikasi Photoshop, printer laser, dan lem kayu untuk membuat sidik jari palsu yang berfungsi dengan sempurna.

Meskipun memiliki keterbatasan keamanan yang sudah diketahui secara luas, autentikasi sidik jari tetap menjadi primadona untuk membuka kunci perangkat dan aplikasi. Banyak laptop, tablet, dan jutaan smartphone masih sangat bergantung pada teknologi ini. Alasannya sederhana: kenyamanan. Teknologi biometrik memangkas kerumitan pengguna dibandingkan dengan keharusan mengetik kata sandi panjang. Di sisi lain, sistem ini masih dinilai cukup tangguh untuk melindungi terhadap pencurian biasa atau akses tidak sah dari orang-orang di sekitar pengguna.

TechSpot pada 13 Mei 2026 mencatat bahwa sistem ini masih dianggap cukup kuat untuk memberikan perlindungan terhadap pencurian biasa atau akses tidak sah dari orang-orang di sekitar pengguna.

Dengan meningkatnya resolusi kamera dan kemajuan AI, risiko pencurian sidik jari dari selfie menjadi lebih nyata. Pengguna perlu menyadari bahwa pose sederhana yang tampak tidak berbahaya dapat membuka pintu bagi peretas. Kesadaran ini penting untuk menjaga privasi dan keamanan data biometrik pribadi.

selfiesidik jariAIkamera resolusi tinggipembobolan biometrikperetasankeamanan data biometrik

Komentar

Memuat komentar...