Semangka Pesisir Sukaresik Jadi Sumber Pendapatan Rp1 Miliar

Ratna D. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Semangka Pesisir Sukaresik Jadi Sumber Pendapatan Rp1 Miliar

Gambar atau konten salah?

Di sepanjang jalan lintas pantai Pangandaran menuju Sukaresik, suasana pagi ini terasa berbeda. Di sisi kanan jalan, aktivitas pertanian mengisi ruang yang dulu kosong. Warga pesisir Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, kini menanam semangka di lahan yang sebelumnya tidak produktif.

Pesisir Sukaresik dulu hanya menampung gundukan ilalang dan pepohonan kelapa. Sekelompok pemuda berhasil mengubahnya menjadi ladang semangka. Inisiatif ini dipimpin oleh Agus Muhyanto, seorang pengusaha otodidak yang memulai perkebunan ini kurang dari satu tahun lalu.

Agus mengaku, “Alhamdulillah saya berjalan sejak tahun kemarin, belum genap setahun tapi sekali panen itu dapat banyak sentuh 1 miliar,” ucapnya pada 18 Mei 2026. Ia menekankan bahwa pendapatan tersebut berasal dari perkebunan pesisir seluas 10 hektare dengan potensi 150‑200 ton sekali panen.

“Kami memanfaatkan lahan pesisir seluas sekitar 10 hektare, ada ribuan pohon semangka yang tumbuh subur di atas pasir pantai. Itu sungguh menakjubkan,” katanya. Lahan berpasir ini, yang dulu dianggap tidak layak, kini menjadi ladang semangka tanpa biji yang banyak diminati pasar.

Panen semangka di Sukaresik menarik perhatian warga dan pengendara yang lewat di kawasan Pamugaran. Agus menjelaskan bahwa dalam satu musim panen, ia mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 ton buah semangka. Dengan harga jual sekitar Rp 11 ribu per kilogram, omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

“Kalau dihitung minimal satu kali panen itu bisa Rp 1 miliar. Tapi harga memang fluktuatif, sekarang kita jual sekitar Rp 11 ribu per kilogram,” ucapnya. Budidaya semangka ini tergolong cepat; sejak bibit dipindahkan dari polybag ke lahan tanam, buah semangka sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 60 hari.

Meski berada di kawasan pesisir dengan tanah berpasir, Agus menunjukkan bahwa lahan tersebut tetap produktif bila dikelola dengan teknik pertanian yang tepat. Kualitas semangka yang dihasilkan memiliki rasa manis dan tekstur segar, serta ukuran besar dengan daging merah cerah.

Agus tidak hanya fokus pada keuntungan pribadi. Ia juga memberdayakan warga sekitar untuk ikut bekerja di kebun semangka miliknya. Beberapa warga dilibatkan mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen. “Pekerja kita melibatkan warga setempat sekaligus sambil belajar agar nanti bisa dikembangkan juga di tempat lain di Pangandaran,” ucap Agus.

Hasil panen semangka dari kebun tersebut sebagian besar dipasok untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pangandaran. Agus menjelaskan, “Hasil panen kita drop di sekitar Pangandaran saja karena kebetulan ada program MBG. Jadi kita distribusikan langsung ke dapur-dapur MBG.”

Ia menegaskan bahwa jumlah petani semangka di Pangandaran masih sangat terbatas. “Petani semangka di Pangandaran memang masih kurang. Kebanyakan masih mengambil pasokan dari luar daerah seperti Jambi,” kata Agus. Dengan menjadi pemasok semangka lokal pertama yang secara rutin menyuplai kebutuhan program MBG, Agus berharap lebih banyak masyarakat tertarik mengembangkan budidaya semangka di wilayah pesisir Pangandaran.

“Karena, selain memiliki potensi pasar yang besar, kondisi wilayah pesisir cukup cocok untuk pertanian semangka jika dikelola dengan benar,” ucapnya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa lahan pesisir yang dulu dianggap tidak produktif dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.

Secara keseluruhan, proyek semangka di Sukaresik menggambarkan potensi transformasi lahan pesisir menjadi sumber pendapatan yang signifikan. Dengan dukungan teknologi sederhana dan partisipasi warga, hasilnya tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung program sosial seperti MBG, memperkuat ketahanan pangan di daerah tersebut.

Semangka PesisirPangandaranAgus MuhyantoProgram Makan Bergizi GratisPendapatan MiliarTransformasi LahanPertanian Berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...