Serangan Iran Hampir Hentikan Pipa Minyak Saudi 700k Barel/h
Gambar atau konten salah?
Serangan udara yang diluncurkan oleh Iran menabrak pipa minyak strategis milik Arab Saudi yang mengalir ke Laut Merah. Dampaknya menurunkan aliran minyak sekitar 700.000 barel per hari.
Pipa tersebut, yang dikenal sebagai jalur East‑West, membawa minyak dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia menuju terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Kapasitas maksimalnya mencapai 7 juta barel per hari, menjadikannya jalur utama ekspor Arab Saudi. Pipa ini tidak dapat dipakai karena Selat Hormuz ditutup oleh Iran.
Di luar serangan pada pipa, fasilitas produksi di Manifa dan Khurais juga diserang, mengurangi produksi Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Beberapa kilang minyak turut menjadi sasaran, menambah tekanan pada infrastruktur energi negara tersebut.
Kerusakan ini memperparah gangguan besar pada pasokan minyak global yang sudah terdampak oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Sebelumnya, Selat Hormuz menampung sekitar 20 % pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, produsen minyak di Teluk telah memangkas produksi sekitar 13 juta barel per hari.
Amerika Serikat pernah menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan syarat Iran mengizinkan kapal melintas di selat tersebut. Namun, CEO perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, Sultan Ahmed Al Jaber, menyatakan jalur itu masih belum benar-benar terbuka untuk lalu lintas.
“Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, diatur, dan dikendalikan,” kata Al Jaber dalam unggahan di media sosial. “Jadi mari kita tegaskan: Selat Hormuz tidak terbuka.”
Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi produsen minyak di Teluk, menghubungkan mereka ke pasar global. Dengan aliran yang terhambat, ketergantungan dunia pada pasokan dari kawasan ini semakin jelas.
Serangan ini menyoroti betapa rapuhnya rantai pasokan minyak global ketika infrastruktur utama terancam. Ketegangan di wilayah Teluk dan kebijakan Iran mengenai Selat Hormuz terus menambah ketidakpastian bagi pasar energi internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
Berita Terbaru
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
