Si Kursi Roda, Ratna Ujian UTBK Sekali Pertama untuk Unpad
Gambar atau konten salah?
Di tengah keramaian ratusan mahasiswa yang menunggu ujian masuk perguruan tinggi, Ratna Rahayu menonjol. Seorang perempuan berusia 20 tahun, ia duduk di kursi roda sambil menunggu giliran ujian UTBK‑SNBT 2026 dimulai. Ibu Ratna, Diah Komala, berdampingan, menjadi pendamping dan jembatan komunikasi bagi putrinya.
Pukul 11.30 WIB, suasana kampus mulai disterilkan. Sementara menunggu, Ratna dan ibunya sering mengobrol ringan. Terkadang Ratna tersenyum, matanya bersinar, menandakan semangat yang tak kalah besar dibandingkan peserta lain.
Ratna mengidap cerebral palsy. Keterbatasan fisiknya tidak pernah menjadi penghalang bagi ia untuk terus melangkah. Hari itu menjadi momen penting dalam hidupnya karena ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk pertama kalinya.
“Ke Unpad jurusan sosiologi,” ujar Diah, menyampaikan pilihan Ratna. Ia menambahkan bahwa Ratna ingin lebih dekat dengan masyarakat dan memahami dinamika sosial, khususnya berkaitan dengan kelompok disabilitas. “Suka katanya, suka berinteraksi sama masyarakat dan melihat banyak kaum disabilitas jadi ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkat dan mengejar cita‑citanya,” lanjut Diah.
Keyakinan Ratna pun sangat kuat. Di balik keterbatasan, ia menyimpan optimisme besar untuk bisa lolos UTBK tahun ini. “Yakin banget,” kata Diah menirukan keyakinan putrinya.
Perjalanan menuju hari ini tidaklah instan. Ratna telah mempersiapkan diri selama berbulan‑bulan dengan belajar tekun demi menghadapi ujian ini. “Berbulan‑bulan belajar,” ujarnya.
Ratna lulus dari SLB Karya Bakti Kota Bandung dua tahun lalu. Setelah lulus, ia tidak langsung melanjutkan pendidikan formal. Waktunya lebih banyak diisi dengan mengembangkan bakat, terutama di dunia tulis‑menulis. Ia gemar menulis sajak, bahkan kerap tampil membacakan karyanya di berbagai kesempatan. Dunia literasi menjadi ruang berekspresi, tempat di mana keterbatasan fisik seolah tak lagi menjadi sekat. “Dia suka menulis buku, membuat sajak, kalau ada event dia membaca sajak dan menulis sendiri,” tutur Diah.
Bagi keluarga, hasil UTBK bukanlah satu‑satunya tujuan. Proses dan kesempatan untuk berkembang dianggap jauh lebih penting. “Jadi kalau nanti bisa diterima syukur ya, kalaupun ini kita (terima), yang penting dia bisa mengembangkan bakatnya. Memang gemar menulis, mengarang,” katanya.
Ini merupakan kali pertama Ratna mengikuti UTBK. Sebelumnya, ia belum sempat mencoba karena minimnya informasi mengenai akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas. “Kemarin enggak kita mengembangkan bakat saja. Gak tahu informasinya bisa lanjut ke pendidikan tinggi,” ujar Diah.
Ratna menjadi satu dari 20 peserta disabilitas yang mengikuti UTBK di ISBI Bandung. Dalam pelaksanaan ujian, pihak kampus memberikan pelayanan maksimal agar peserta dengan keterbatasan dapat mengerjakan soal dengan nyaman dan tenang.
Ketua Pelaksana UTBK‑SNBT ISBI Bandung, Indra Ridwan, menjelaskan bahwa sebelum ujian dimulai, panitia telah mengidentifikasi kebutuhan setiap peserta disabilitas. Ruangan khusus pun disiapkan sesuai kebutuhan masing-masing. “Kita coba identifikasi dari 20 tersebut, apa disabilitasnya, misalnya dengar atau tunarungu dan lain sebagainya. Kemudian kita kelompokkan. Ada ruangan khusus, ada yang hanya untuk menangani dua orang dengan tipe dari disabilitas tertentu, ada yang hanya untuk satu orang dan ada untuk yang sisanya,” jelasnya.
Indra menyebutkan bahwa panitia pusat UTBK‑SNBT 2026 telah menginstruksikan agar petugas memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh peserta tanpa terkecuali. “Kenyamanan, ketertiban, keamanan itu harus menjadi salah satu poin penting sehingga para peserta itu bisa nyaman dan bisa mengerjakan dengan baik, mereka merasakan puas untuk ujian,” ucapnya.
Acara ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia semakin memperhatikan akses bagi penyandang disabilitas. Dengan persiapan matang dan dukungan keluarga, Ratna menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi impian untuk belajar dan berkontribusi pada masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
624 Pendaftar Sekolah Maung Tampil Meski Sosialisasi Singkat
Sukabumi Bentuk Pokja BSAN, Fokus Kurangi Kekerasan Sekolah
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
