Siswa Asmat Minta Izin Inap Sekolah Selama 5 Hari untuk UAS

Andi B. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Siswa Asmat Minta Izin Inap Sekolah Selama 5 Hari untuk UAS

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, tiga siswa SMPN 2 Pantai Kasuari memutuskan untuk menginap di sekolah selama lima hari. Keputusan ini diambil agar mereka dapat mengikuti ujian akhir semester (UAS) tepat waktu. Jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, dan medan yang harus dilalui tidak mudah.

Nama ketiga siswa tersebut adalah Manuel, Simon dan Aloysius. Mereka berasal dari Kampung Kairin di Distrik Safan. Pada 27 April 2026, mereka meminta izin menginap di sekolah. Izin tersebut berlangsung hingga ujian selesai pada 1 May 2026.

“Mereka mulai izin menginap mereka dari tanggal 27 sampai dengan beres ujian itu 5 hari,” kata Malik Wibowo, guru SMPN 2 Pantai Kasuari. Ia menjelaskan bahwa ketiga siswanya biasanya berjalan kaki sekitar 30 kilometer dari rumah. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 3 jam.

“Nah, kebetulan kemarin itu baru ujian, jadi mereka sangat takut untuk ketinggalan. Jadi mereka berinisiatif minta izin menginap di sekolah agar bisa mengikuti ujian begitu,” tambahnya. Selama ujian berlangsung, ketiga siswa tidur di ruang kelas kosong dengan perlengkapan seadanya yang dibawa dari rumah.

Malik menyebutkan bahwa sekolah ini terletak di tengah hutan. “Jadi memang kita letak sekolah ini memang benar-benar di tengah-tengah hutan, dari kampung sangat jauh,” ujarnya. Kondisi geografis membuat akses ke sekolah menjadi sulit. Mereka harus melewati rawa-rawa, hutan, dan pantai. “Harus berjalan kaki, di sini kan daerah rawa-rawa, daerah pesisir. Jadi mereka ya melewati rawa-rawa, hutan, pantai seperti itu medan mereka setiap hari,” jelasnya.

Selain medan, kondisi ekonomi keluarga juga menjadi faktor. Beberapa siswa terpaksa bolos karena harus membantu orang tua mencari makan di hutan. “Mereka rata-rata kalau pas kita panggil saat beberapa hari tidak masuk, alasan mereka itu sudah mencari makan membantu orang tua begitu,” tutur Malik. Jarak kampung terdekat ke sekolah berkisar 2 kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Cuaca juga menambah tantangan. Saat hujan deras, jalanan menjadi berlumpur dan air sungai pasang. “Kalau airnya pas lagi pasang, ya mereka harus berenang. Kadang ya ada yang punya perahu, ya mereka naik perahu,” ungkapnya. Hewan liar seperti buaya, ular, dan babi hutan seringkali menjadi ancaman. “Hewan-hewan liar kayak gitu ya anak-anak masih sering ketemu, termasuk babi hutan, buaya, ular, kayak gitu anak-anak juga masih sering ketemu di sini,” tambahnya.

Walaupun begitu, Malik menilai para siswanya memiliki semangat belajar yang tinggi. Keinginan mereka terlihat dari usaha tetap hadir di kelas setiap hari. “Hanya saja itu tadi kondisi geografis, kondisi keluarga yang berkekurangan makanan, memaksa mereka untuk meninggalkan sekolah untuk mencari makan di hutan,” tutur Malik.

Fasilitas di SMPN 2 Pantai Kasuari dinilai masih memadai. Malik, yang sudah mengajar di sekolah tersebut selama delapan tahun, berharap pemerintah terus memberikan perhatian kepada siswa. Ia menyebutkan bahwa sudah ada bantuan dari dinas pendidikan, seperti rumah atap, jalan atap, bantuan kelas, rumah guru, dan tenaga pengajar yang lengkap.

Keputusan ketiga siswa untuk menginap di sekolah selama lima hari mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pelajar di daerah terpencil. Mereka harus menyeimbangkan perjalanan panjang, kondisi alam, dan kebutuhan keluarga. Meskipun begitu, semangat belajar mereka tetap kuat, menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas bagi generasi muda di Papua Selatan.

SMPN 2 Pantai KasuariAsmatPapua Selatanmenginap di sekolahujian akhir semesterjarak 30 kmmedan rawa hutan pantai

Komentar

Memuat komentar...