SPTP Capai Target 10 Terminal, Meningkatkan Distribusi 2026
Gambar atau konten salah?
PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mencatat kinerja positif pada triwulan pertama tahun 2026, meski industri logistik global menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, dan ketegangan geopolitik.
Data yang dikumpulkan oleh SPTP menunjukkan bahwa sepuluh terminal peti kemas berhasil melampaui target hingga 22 April 2026. Terminal tersebut dan persentase pencapaian masing‑masing adalah: TPK Nilam 118,24 %, TPK Semarang 117,26 %, TPK Sorong 109,02 %, TPK Kendari 107,03 %, TPK Teluk Lamong 105,1 %, TPK Merauke 103,86 %, TPK Surabaya 102,09 %, TPK Jayapura 101,36 %, TPK Makassar 100,75 %, dan IPC Terminal Petikemas 100,6 %.
Hasil ini mencerminkan aktivitas bongkar muat yang tinggi serta peningkatan arus distribusi barang di setiap wilayah, termasuk daerah timur Indonesia. Di PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, misalnya, arus peti kemas naik sekitar 10 %.
Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Harmoko, menegaskan bahwa kenaikan tersebut sejalan dengan penetapan Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). “Peningkatan ini seiring penetapan Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Banyak material pembangunan dan alat berat masuk dari Pulau Jawa,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada 22 April 2026.
Ia menambahkan bahwa komoditas yang masuk ke TPK Merauke juga mengalami perubahan. “Komoditas seperti buah, bawang, hingga hasil perkebunan mulai berdatangan dalam jumlah lebih besar, membuka potensi ekonomi baru bagi wilayah paling timur Indonesia tersebut,” tambahnya.
Namun, Puji Harmoko juga mengingatkan bahwa pertumbuhan logistik saja belum cukup. Tanpa dukungan infrastruktur, efisiensi operasional, dan kebijakan yang tepat, beban logistik berpotensi terus menekan pelaku usaha dan masyarakat.
Di sisi lain, TPK Sorong mencatat throughput peti kemas sebesar 16.131 TEUs, tumbuh 10 % dibandingkan target perusahaan hingga Maret 2026 sebesar 14.616 TEUs. Peningkatan ini dipicu oleh momentum angkutan barang selama periode Hari Raya Idulfitri pada Februari hingga Maret, serta tambahan arus peti kemas dari perubahan pola distribusi (transhipment) kapal PT SPIL yang kini melalui Pelabuhan Sorong.
Terminal Head TPK Sorong, Welta Selfie, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari proses transformasi terminal. “Pelabuhan Sorong yang sebelumnya beroperasi secara konvensional kini telah berkembang menjadi terminal petikemas yang lebih modern dan terstandarisasi,” paparnya.
Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai tekanan global menjadi momentum untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Menurutnya, integrasi transportasi multimoda dan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci meningkatkan efisiensi dan ketahanan rantai pasok.
“Pendekatan transportasi multimoda bukan lagi pilihan dalam penguatan sistem logistik nasional, melainkan kebutuhan agar menjadi lebih kompetitif dan resilien. Namun, integrasi fisik pada pembangunan infrastruktur saja tidak cukup, dimana hal ini harus didukung oleh pemanfaatan teknologi, khususnya AI,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan integrasi digital melalui platform seperti National Logistics Ecosystem (NLE). “Dengan menggabungkan kekuatan multimoda, integrasi supply chain, dan pemanfaatan AI, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Ini bukan hanya tentang menurunkan biaya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ungkapnya.
Di bidang ekonomi, Profesor Rossanto Dwi Handoyo dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya menyatakan bahwa sektor logistik, khususnya pelabuhan peti kemas, tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ia menyoroti karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut.
“Sebagian besar distribusi barang, baik domestik maupun internasional, melalui jalur laut. Pelabuhan menjadi simpul utama yang menggerakkan ekonomi,” imbuhnya. Menurutnya, peran pelabuhan menjadi semakin krusial karena kapasitas angkutan udara yang terbatas dan biaya yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak dapat diandalkan untuk distribusi dalam skala besar.
Rossanto melihat adanya pertumbuhan arus peti kemas di sejumlah terminal sebagai sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional, termasuk di kawasan Indonesia Timur. Peningkatan throughput mencerminkan adanya pergerakan barang yang lebih aktif, baik untuk konsumsi maupun produksi.
Ia menekankan pentingnya percepatan digitalisasi di sektor pelabuhan dan logistik. Pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, serta menekan biaya operasional. “Digitalisasi akan memangkas waktu tunggu, mempercepat proses bongkar muat, dan meningkatkan transparansi. Ini sangat penting untuk daya saing. Selain itu, integrasi sistem logistik juga dinilai penting agar arus barang dapat dipantau secara real time dan lebih terkoordinasi,” tuturnya.
Secara keseluruhan, data SPTP menunjukkan bahwa meski industri logistik global menghadapi tantangan, kinerja terminal peti kemas di Indonesia tetap kuat. Peningkatan throughput di terminal seperti Sorong, Merauke, dan Nilam menandai pertumbuhan distribusi barang yang signifikan. Namun, tantangan masih ada: kebutuhan akan infrastruktur yang memadai, kebijakan yang mendukung, serta adopsi teknologi digital dan AI untuk memperkuat ketahanan rantai pasok.
Dengan memperkuat integrasi multimoda, digitalisasi, dan pemanfaatan AI, Indonesia dapat mempercepat transformasi logistik nasional. Langkah ini tidak hanya akan menurunkan biaya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
