Stok Beras Jepang Naik 54%: Harga Melonjak, Konsumsi Turun
Gambar atau konten salah?
Selama berabad-abad, nasi telah menjadi makanan pokok di Jepang. Namun, beberapa tahun terakhir, harga beras yang melonjak membuat konsumen mulai mengurangi konsumsi nasi. Perubahan ini menimbulkan lonjakan stok beras di gudang penyimpanan.
Menurut data terbaru dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, hingga akhir 31 Maret 2026 terdapat sekitar 2,7 juta metrik ton beras yang masih disimpan oleh pedagang grosir. Angka tersebut naik hampir 54 % dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi yang tertinggi sejak 2015 dan termasuk salah satu rekor terbesar sejak 2009.
Yang paling mengejutkan adalah stok beras yang belum terjual setara dengan sekitar 39 %–40 % dari total kebutuhan domestik Jepang dalam setahun. Persentase ini menjadi yang tertinggi sejak pemerintah mulai mencatat data persediaan beras nasional.
Stok beras yang menumpuk dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah hasil panen beras pada musim gugur 2025 yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Namun, faktor terbesar datang dari penurunan permintaan masyarakat. Harga beras di Jepang melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Di akhir pandemi Covid‑19, beras lokal kemasan 5 kilogram masih mudah ditemukan dengan harga sekitar 2.000 yen atau Rp 220 ribu. Kini, harga beras populer di supermarket Jepang banyak yang menembus lebih dari 4.000 yen atau Rp 445 ribu.
Kenaikan harga tersebut membuat banyak warga mulai mengubah kebiasaan makan mereka. Konsumsi nasi warga lokal dilaporkan menurun karena masyarakat memilih makanan alternatif yang lebih murah. Tak hanya konsumen di skala rumah tangga, restoran dan bisnis makanan juga mulai keberatan dengan harga beras lokal. Banyak restoran, toko bento, hingga gerai onigiri kini beralih menggunakan beras impor yang lebih murah demi menekan biaya operasional.
Sebagai contoh, sepanjang 2025, impor beras Jepang dari Amerika Serikat tercatat mencapai 96.834 metrik ton atau naik 95 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sementara total impor beras dari berbagai negara meningkat hingga 104 kali lipat dibanding 2024.
Respons masyarakat terhadap penumpukan stok beras ini pun terbilang dingin. Banyak konsumen menilai penjual beras terlambat menurunkan harga. Mereka menaikkan harga saat pendapatan masyarakat di Jepang stagnan. Jadi apa yang mereka harapkan? tulis salah satu komentar netizen di Jepang.
Jika harga tidak segera turun, stok beras lokal di Jepang diperkirakan akan terus menumpuk di gudang karena konsumen dan pelaku usaha memilih alternatif yang lebih terjangkau. Perubahan pola konsumsi ini menandai pergeseran signifikan dalam kebiasaan makan masyarakat Jepang, yang selama ini mengandalkan nasi sebagai makanan utama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
Prabowo Tegaskan Ukuran Potongan Ayam di Program MBG
Kari Minang Depok, Gyudon Jakarta, Diet Rendah Sodium Jadi Tren
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Berita Terbaru
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Pencarian Faiz Hidayat 23 Tahun di Gunung Seulawah Berlanjut
Rupiah Rp18.000/dolar, Siapkan Barter Filipina Indonesia
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
