Sumsel Capai Kemiskinan Satu Digit, Gubernur Deru Berhasil

Ningsih R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Sumsel Capai Kemiskinan Satu Digit, Gubernur Deru Berhasil

Gambar atau konten salah?

Herman Deru, gubernur Sumatera Selatan, menempatkan penurunan angka kemiskinan sebagai prioritas utama sejak masa jabatannya pada 2018. Pada saat itu, tingkat kemiskinan berada di dua digit, yakni 12,82 persen. Kini, ia berhasil menurunkannya menjadi 9,85 persen, menandai pencapaian single digit.

Dalam perbincangan santai di Griya Agung Palembang pada 26 April 2026, Herman berbagi kisahnya bersama Wakil Pemred detikcom Elvan Dany Sutrisno. Ia mengungkapkan, “Saat awal menjadi gubernur, angka kemiskinan Sumsel di kisaran 13 persen. Kemudian saya cari cara untuk menekannya, karena menjadi gubernur berbeda dengan bupati. Terutama karena luas wilayah yang ditangani berbeda, karakteristiknya beda. Saat ini, angkanya sudah single digit.”

Herman menekankan bahwa hasil tersebut berasal dari serangkaian program strategis yang dijalankan secara konsisten. Salah satu kunci utama adalah Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Program ini dimulai pada pertengahan periode pertama masa jabatan, yakni 2018‑2023, dan bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat tingkat bawah. Ia menjelaskan, “Sebagai contoh, kalau masyarakat sudah menanam cabai, mereka tidak perlu lagi beli ke pasar saat harga naik, mereka bisa mengambil dari yang mereka tanam. Intinya, kita ingin mengubah mindset masyarakat, dari yang sebelumnya konsumtif menjadi produktif.”

Pengalaman Herman sebagai Bupati OKU Timur juga membentuk pandangannya. Pada masa itu, angka kemiskinan tercatat sebesar 17 persen. Ia menambahkan, “Empat tahun kemudian, saya berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, menjadi satu digit. Sampai saya diundang ke Istana di era Pak SBY. Pada saat itu, OKU Timur menjadi kabupaten tersejahtera di Provinsi Sumsel.”

Di masa gubernur, semangat menurunkan kemiskinan satu digit selalu ia sampaikan dalam setiap acara. Ia mengakui, “Jujur, saya merasakan ini sulit, saya khawatir kalau ini tidak tercapai. Karena ini bukan sekadar statistik, kalau bicara angka harus juga secara visual dan berdasarkan masyarakatnya.”

Selain GSMP, penurunan kemiskinan juga didorong lewat fokus pada infrastruktur. Herman menilai, “Biaya hidup yang mahal membuat penurunan kemiskinan sulit dicapai. Jadi, orang tidak mampu bisa karena mahal, bisa tidak mampu karena penghasilan kurang, jadi bagaimana kita berupaya memurahkan dahulu biaya hidup dengan menginterkoneksikan antarkecamatan, antarkabupaten, agar cost menjadi murah.”

Hasilnya, pada tahun pertama masuk ke tahun kedua, kemantapan jalan meningkat dari 60 persen menjadi 90 persen. Interkoneksi tersebut membuat komoditas pangan menjadi lebih murah karena biaya transportasi berkurang. Setelah itu, fokus dialihkan ke bidang kesehatan, dengan aktivasi posyandu. Ia menyatakan, “Saya tidak buat judul gratis, tetapi lebih pada yang konkret. Salah satunya aktivasi posyandu, memang program jadul tapi saya ingin penyeragaman. Seperti dacinnya (timbangan) memakai digital agar lebih presisi, agar akurasi berat dan tinggi diperhitungkan lebih benar. Karena ini terkait dengan penanganan asupan gizinya, karbohidratnya, protein, dan lain‑lain.”

Herman Deru menegaskan bahwa program-program ini tidak hanya mengurangi angka kemiskinan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat Sumatera Selatan. Dengan pendekatan yang holistik—dari ketahanan pangan, infrastruktur, hingga kesehatan—pemerintah provinsi berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga. Hasilnya, Sumatera Selatan kini berada di jalur menuju kemiskinan satu digit, menandai langkah konkret menuju pembangunan berkelanjutan.

Herman DeruSumatera SelatankemiskinanGerakan Sumsel Mandiri Panganinfrastrukturposyanduketahanan pangan

Komentar

Memuat komentar...